Habis makan siang di restoran India–Nepal Lumbini, perut terasa hangat dan kenyang. Aroma rempah dan nasi berbumbu masih menempel di lidah. Rasanya kami sudah punya energi cukup untuk kembali menjelajah Nara.
Dari Stasiun Kintetsu Nara kami menyeberang menuju halte bus berhias ilustrasi rusa dengan huruf besar berwarna biru: “I” untuk Information. Di sampingnya berdiri peta digital yang menunjukkan posisi bus secara real time—kemewahan kecil yang menyenangkan pelancong seperti kami.
Angin musim gugur meniup pelan, dinginnya menusuk namun tak sampai menggigil. Lima menit kemudian bus nomor 178 datang, pintu belakang terbuka otomatis. Kami ingat aturan tak tertulis: naik dari belakang, turun dari pintu depan dekat sopir, cukup tap kartu IC.
Suasana hangat langsung menyelimuti begitu masuk. Kursi-kursi tertata rapi, layar digital di bagian depan menampilkan halte berikutnya. Bus melaju perlahan melewati pepohonan tinggi di area Nara Park; daun-daunnya mulai meranggas, seolah bersiap menyambut musim dingin.
Kami turun di halte yang tepat berada di seberang gedung bergaya klasik Museum Nasional Nara. Beberapa langkah dari sana tampak gerbang torii merah menyala. Di bagian atasnya menggantung papan kayu bertuliskan kanji 氷室神社—Himuro Jinja.
Jalan setapak berbatu menuntun kami masuk ke kompleks. Pepohonan merunduk; cabang-cabangnya yang kecokelatan mengisyaratkan akhir musim gugur. Beberapa perempuan berkimono berjalan pelan, menambah suasana tradisional. Lentera-lentera batu berjajar rapi di sisi kanan, sementara di kiri tampak bangunan kecil pelengkap kuil.
Himuro Jinja rupanya bukan kuil sembarangan. Nama “Himuro” berarti “ruang penyimpanan es.” Pada tahun 710, saat ibu kota masih berada di Heijō-kyō (Nara), istana mengandalkan es beku dari kolam pegunungan. Es dikumpulkan pada musim dingin, disimpan hingga musim panas, lalu dipersembahkan kepada istana sebagai doa kemakmuran. Tradisi ini berlangsung puluhan tahun sampai ibu kota dipindahkan ke Kyoto. Sejak itu kuil ini menjadi tempat pemujaan dewa es. Setiap 1 Mei digelar festival Kenpyōsai: ritual persembahan es, lentera es, serta tradisi ramalan es—huruf ramalan muncul perlahan ketika kertas ditempelkan pada lempengan es. Tradisi ini disebut Ice Omikuji, mirip ciamsi di kelenteng Tiongkok, hanya medianya es.
Sejenak kami terdiam. Betapa simbol kecil seperti es pun disakralkan, menjadi doa panjang tentang panen, cuaca, dan keberlangsungan hidup masyarakat masa lampau.
Dari kuil, kami menyeberang kembali ke arah taman. Rusa-rusa muncul dari balik pepohonan, seperti warga lokal menyapa tamu tanpa malu. Jalan menuju museum dipenuhi wisatawan: ada yang tertawa kecil ketika rusa mendekat, ada yang panik dan berlari menjauh. Saya teringat tujuh tahun lalu di Itsukushima (Miyajima), rusa-rusa juga santai menyambar kertas dari tangan wisatawan. Karena itu kami tetap berhati-hati, bisa-bisa lembaran uang yen ikut dilahapnya.
Tak jauh dari tempat kami berdiri, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun menjajakan ubi panggang dari gerobak sederhana. Asap tipis mengepul dari tungku; aroma karamel dan kayu bakar menari di udara dingin. Saya bertanya, “Nan desuka?” Ia menjawab ramah: yaki-imo—ubi panggang Jepang—300 yen per 100 gram. Tak jauh dari sana sepasang turis asing menunggu ubinya matang.
Langkah terhenti di depan papan informasi besar. Poster utamanya menampilkan dua sosok raksasa berotot dengan wajah garang: para Kongō Rikishi, atau Dewa Penjaga. Sosok kiri bermulut terbuka—suara “A”—melambangkan awal. Yang kanan bermulut tertutup—suara “Un”—melambangkan akhir. Mereka biasanya menjaga gerbang kuil besar seperti Kinpusen-ji di Yoshino, namun kini “bertamu” di museum. Andai kami masuk, tentu bisa melihat detail urat dan guratan kayu sang penjaga, juga deretan patung Buddha dari zaman Nara serta koleksi perunggu kuno. Tapi waktu tidak banyak.
Kami berjalan ke pergola berkursi kayu, duduk sebentar. Seekor rusa mendekat, seperti memohon biskuit. Kebetulan anak saya membawa sekantong kecil, lalu menyodorkannya perlahan. Interaksi singkat namun menyenangkan.
Tidak jauh dari sana berdiri papan peringatan bergambar rusa jantan. Musim kawin sedang berlangsung; meski jinak, rusa tetap hewan liar. Mereka bisa menggigit, menendang, menanduk, atau menjatuhkan tubuh ke arah pengunjung. Karena itu tanduk rusa jantan dipotong pada awal musim kawin agar tidak membahayakan manusia.
Saya kembali duduk sambil berinteraksi dengan seekor rusa, kali ini lebih hati-hati. Sesekali memberi biskuit sikashibei. Kalau kehabisan, cukup menunjukkan kedua tangan kosong—mereka biasanya mengerti dan pergi meninggalkan kita.
Matahari mulai turun, menyisakan hangat yang samar. Di sisi kiri tampak bangunan Buddhist Sculpture Hall, masih bagian dari kompleks museum. Wisatawan berdatangan dan pergi; waktu terasa mengalir pelan, meninggalkan kesan damai yang jarang ditemukan di kota besar seperti Osaka.
Setelah hampir dua jam menikmati suasana senja di Nara Park kami berjalan kembali memesan taksi daring ke Stasiun Kintetsu Nara. Tujuannya Stasiun Namba di Osaka. Namun kedua anak saya meminta izin turun di Tsuruhashi; dari situ mereka bisa berganti ke Osaka Loop Line dengan lebih mudah untuk melanjutkan perjalanan mereka. Sementara saya dan istri langsung menuju Namba, lalu berpindah ke Midosuji Line.
Perjalanan seharian terasa singkat namun penuh makna—campuran rempah dari restoran Lumbini, dinginnya angin musim gugur, sejarah es Himuro Jinja, dan tingkah lucu rusa yang tak pernah benar-benar jinak. Ada sesuatu dari Nara yang sulit dijelaskan. Jadul dan sakral menyatu tanpa memaksa, seakan waktu melambat agar manusia ingat bahwa alam, sejarah, dan kehidupan pernah berjalan berdampingan sebelum semuanya menjadi tergesa seperti kota modern.



