NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

Tradisi “Takbiran” Menyambut Natal dan Tahun Baru di Makau

(Taufik Hidayat/cgwtravel.com)

Dibandingkan dengan Hong Kong, Makau memang selalu berada di posisi kedua, kecuali jika ditinjau dari sudut historis, keantikan, dan beberapa keunikan budayanya. Makau telah menjadi koloni Portugis sejak abad ke-16, jauh lebih tua dibandingkan Hong Kong yang baru menjadi koloni Inggris pada pertengahan abad ke-19. Salah satu warisan unik yang masih dipertahankan hingga kini adalah penggunaan Bahasa Portugis yang meluas, terpampang nyata pada nama-nama gedung, tempat, maupun jalan.

Kedatangan dan Kemudahan Transportasi

Setelah berlayar selama kurang lebih satu jam dengan jetfoil atau kapal cepat dari Pelabuhan Macau Ferry di Sheungwan, Hong Kong, kita tiba di Terminal Maritimo de Passageiros Exterior, atau Outer Harbour Ferry Terminal. Terminal ini adalah pelabuhan utama feri sekaligus helikopter di bekas koloni Portugis ini. Petunjuk arah kedatangan di terminal tertulis Chegadas atau Arrival.

Proses imigrasi berjalan sangat lancar. Paspor Indonesia tidak memerlukan visa untuk tinggal selama 30 hari. Menariknya, paspor juga tidak dicap sebagaimana layaknya keluar masuk Hong Kong. Kita hanya diberi selembar kertas hasil cetakan komputer yang harus disimpan dan ditunjukkan saat meninggalkan Makau—kemudahan yang berbeda dengan tahun 1980-an, ketika visa kedatangan masih diperlukan dengan biaya 50 Dolar Hong Kong dan meninggalkan cap di paspor.

Untuk menuju hotel, wisatawan tidak perlu khawatir. Tersedia pilihan taksi, bus, atau shuttle bus gratis yang melayani hampir seluruh kawasan Makau, baik di Semenanjung Makau maupun deretan hotel dan kasino mewah di Pulau Taipa. Cukup naik dan pilih tujuan. Layanan WiFi gratis juga disediakan di dalam shuttle bus tersebut. Baik yang menginap maupun tidak, semua bebas menumpang, dengan harapan pengunjung bisa turut mampir ke kasino mereka.

Mengagumi Lotus Square dan Kebersihan Kota

Tujuan pertama dalam perjalanan sore itu di Semenanjung Makau adalah Lotus Square. Lapangan yang luas ini dihiasi sebuah tugu perunggu berlapis emas berbentuk Bunga Teratai yang sedang mekar, dengan tinggi sekitar enam meter. Tugu ini adalah persembahan dari Tiongkok sebagai tanda kembalinya kedaulatan Makau dari Portugal ke Tiongkok pada tahun 1999. Bagian kakinya terdiri dari tiga tingkat batu granit cokelat kemerahan yang melambangkan tiga kawasan wilayah Makau: Semenanjung Makau, Pulau Taipa, dan Pulau Coloane. Di sekitarnya, bendera Cina dan Makau berkibar gagah di tiang yang tinggi.

Hal yang menarik adalah papan pengumuman kampanye kebersihan. Salah satunya bergambar seseorang meludah ke sapu tangan, sementara orang lain mengacungkan jempol. Tulisannya, yang hanya dalam Aksara Cina dan terjemahan Portugis “Por favor nao cuspa para o chao” (Mohon Tidak meludah ke Lantai), juga dilengkapi peringatan dalam tiga bahasa (Cina, Portugis, dan Inggris) bahwa meludah sembarangan dapat dikenakan denda 600 MOP (Pataca). Tertulis juga slogan: Cidade Nossa Cidade Limpia (Kota Kita Kota Bersih).

Saya kemudian turun melalui lift dan menyeberangi terowongan bawah tanah di bawah Avenida de Amizade, dengan petunjuk bertuliskan “Passagem Inferior Para Peoses” atau “Subway” (Terowongan untuk Pejalan Kaki).

Dari sini, saya menuju taman besar di depan Hotel dan Kasino Sands, yang konon merupakan cabang dari Las Vegas. Taman berair mancur bundar ini bernama Largo de Monte Carlo atau Lapangan Monte Carlo.

Di terowongan dekat Macau Ferry Terminal, saya melihat papan promosi Festiva de Luz de Macau Tesourosos de Luz yang berlangsung dari 4 hingga 31 Desember 2016. Ini adalah Festival Cahaya yang menerangi monumen bersejarah, hotel, dan kasino di kota yang penghasilan judinya mencapai puluhan miliar Dolar per tahun.

Nuansa Natal dan Tradisi Unik

Tidak mengherankan jika malam itu, hampir semua gedung, mulai dari monumen, gedung tua, kasino, hingga hotel, bermandikan cahaya. Menjelang akhir Desember, banyak pula tulisan bercahaya dalam Bahasa Portugis: “Feliz Natal e Bon Ano Novo,” yang berarti Selamat Natal dan Tahun Baru.

Saat menunggu shuttle bus kembali ke hotel, tepat di persimpangan Avenida de Don Joao IV dan Avenida do Infante Dom Henrique, tiba-tiba lewat kendaraan bak terbuka. Serombongan remaja dengan riang menyanyikan lagu-lagu Natal, mengenakan kostum seperti habis misa. Selama menunggu bus, rombongan ini sudah dua kali lewat. Rupanya, remaja Makau ini berkeliling kota sambil bernyanyi, sebuah tradisi yang mirip dengan takbiran yang diadakan di tanah air dalam rangka menyambut Lebaran.

Ternyata, tradisi serupa takbiran juga ada di Makau, dan sekaligus menjadi kesempatan yang unik untuk belajar Bahasa Portugis!

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.