NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

Omah UGM, Rumah Pesik, Langgar Dhuwur di Gang Soka”

ini bukan sekadar rumah warga, melainkan rumah joglo milik Universitas Gadjah Mada

Dari Kipo Bu Djito, sepeda saya arahkan berbelok masuk ke gang sempit yang akrab disebut warga sebagai Gang Soka. Gang ini tampak tenang pagi itu, tidak menawarkan sensasi apa pun selain keteduhan yang terasa jujur.

Di mulut gang, ada dinding berwarna kuning muda dan beberapa petunjuk. Namun yang paling mencolok justru grafiti pada tembok kusam itu.

Ini dia yang dulu saya cari, kata saya dalam hati ketika membaca tulisan “Omah UGM”, lengkap dengan aksara Jawa di bawahnya.

Tulisan itu tertera pada papan besi kecil berwarna hitam, bergaya klasik, dengan ornamen besi melengkung. Di bagian paling bawah ada versi Latin–Inggris: House of UGM.

Papan itu diberi anak panah yang mengarah ke dalam gang.

Artinya jelas: ini bukan sekadar rumah warga, melainkan rumah joglo milik Universitas Gadjah Mada. Keberadaannya secara sadar ditandai dengan bahasa lokal—aksara Jawa—sebagai penegasan bahwa bangunan ini bagian dari warisan Kotagede, bukan bangunan akademik yang dingin.

Di bawahnya ada papan kedua, juga berwarna hitam, bertuliskan:

“RUMAH ADAT JOGLO – AGUNG LUTHFI”, dengan tambahan keterangan Traditional House.

Ini semacam identitas budaya: menyebut jenis bangunannya (joglo), sekaligus nama yang melekat pada sejarah rumah tersebut.

Namun yang membuatnya unik justru grafiti besar di tembok, pagar kuning seadanya, dan cat yang mengelupas. Di situlah letak maknanya. Petunjuk ke Omah UGM tidak berteriak; ia hanya berbisik.

Seolah Kotagede ingin berkata:

“Kalau kau ingin masuk ke sejarah, pelankan langkahmu. Baca tanda kecil ini.”

Dan saya membacanya. Lalu masuk mengikuti arah tanda panah sambil bersenandung riang, seperti menemukan harta karun tersembunyi.

Di sisi kiri, berderet rumah bercat hijau terang dengan ornamen khas—pintu dan jendela berpanel putih berhias motif hitam, lis profil yang tegas, serta lampu dinding bergaya klasik. Arsitekturnya mengingatkan pada rumah-rumah peranakan atau hunian lama kota dagang, rapi dan masih dirawat. Sebuah mobil putih diparkir pas di mulut teras, menandai adaptasi zaman: rumah tua yang harus berbagi ruang dengan kebutuhan modern.

Di sisi kanan, suasananya berbalik. Dinding kusam dengan cat terkelupas, bata merah yang menyembul, dan jendela kayu yang menua memberi kesan sunyi—seperti saksi yang memilih diam. Lorong pejalan kaki di tengahnya bersih dan tertata, memanjang lurus ke kejauhan, mengundang langkah pelan dan pandangan yang mengembara.

Langit biru dengan awan tipis di atas menambah rasa lega, seolah memberi napas pada ruang sempit ini.

Saya terus mengayuh sepeda perlahan, melewati Rumah Pesik dan Langgar Dhuwur, meski tujuan utama saya adalah Omah UGM.

Akhirnya saya tiba.

Di depan rumah tradisional Jawa dengan halaman luas dan rimbun, terpasang papan informasi yang menjelaskan sejarah singkat bangunan ini. Disebutkan bahwa rumah ini adalah rumah tradisional yang punya “nyawa” dan sejarah panjang.

Dulu rumah ini milik warga lokal bernama Parto Darsono. Namun pascagempa 2006, UGM mengambil alihnya untuk dijadikan pusat pelestarian. Lokasinya berada di Kampung Bodon, Jagalan.

Yang paling menarik bagi saya bukan hanya arsitekturnya, melainkan bagaimana mereka merawat ingatan.

Gandhok—bangunan samping—yang sempat hancur lebur akibat gempa, kini telah dibangun kembali.

Namun ada satu bagian dinding yang sengaja dibiarkan rusak. Mengapa? Agar kita tidak lupa bahwa pada 27 Mei 2006, bumi pernah berguncang hebat di sini. Ini monumen hidup, bukan pajangan.

Bangunan ini juga pernah menjadi “markas komando” tim REKOMPAK – Java Reconstruction Fund, yang bekerja bersama warga untuk menyelamatkan kawasan pusaka Kotagede agar tidak hilang ditelan zaman.

Halamannya luas. Di depannya berdiri pendopo dengan tiang kayu tua yang masih menyimpan aroma masa lalu.

Di sisi kanan joglo ada toko kecil—menjual minuman dan suvenir. Pintunya terbuka, tetapi tak ada orang. Saya mengucapkan salam, sekali, dua kali. Tak ada jawaban.

Tak lama muncul seorang lelaki kira-kira berusia lima puluh tahun. Wajahnya tenang, nadanya datar namun ramah. Ia menjelaskan bahwa tempat ini dikelola UGM, terbuka untuk umum, dan pengunjung diminta mengisi buku tamu serta memberi sumbangan seikhlasnya—dengan anjuran minimal sepuluh ribu rupiah. Tidak ada tiket, tidak ada loket.

Saya pun bertanya, agak sungkan, apakah boleh numpang ke toilet. Ia mengangguk. Dari dalam terdengar suara air—ternyata ada yang mandi. Tak lama kemudian seorang perempuan keluar, lalu bertanya dengan sopan apakah saya sudah mengisi buku tamu dan menyerahkan sumbangan.

Tak lama datang dua gadis muda berjalan kaki. Mereka pun mengisi buku tamu. Tanpa disadari, wisatawan lokal seperti saya memang suka blusukan keluar-masuk kampung.

Saya kemudian berkeliling. Rumah ini dulu rusak parah akibat gempa, lalu dibeli dan dipugar UGM dengan hati-hati agar ruh lamanya tidak hilang.

Saya masuk satu per satu ruangan yang dipenuhi perabot jadoel: radio transistor, televisi kecil tahun 1970-an. Semua bagian rumah boleh dijelajahi, dengan satu pesan yang saya ingat:

“Bagian yang berkarpet hijau jangan diinjak,” kata perempuan itu sambil tersenyum, setengah memerintah.

Di ndalem atau ruang utama, suasananya sakral dan penuh simbolisme. Di tengah ada dinding kayu tertutup tirai kuning keemasan—Senthong Tengah, ruang paling suci dalam rumah Jawa, tempat simbol kehadiran leluhur dan Dewi Sri.

Di depannya terdapat sepasang patung Loro Blonyo, lambang kesuburan dan keharmonisan.

Gebyok berukir, lampu kerek antik, bufet kaca kolonial, karpet hijau, tiang-tiang kayu besar—semuanya membentuk suasana yang tenang dan penuh makna.

Saya juga melihat dapur di belakang, dekat kandang unggas. Dinding kayu dipenuhi nampan kaleng bermotif bunga, termos jadul, sangkar burung, kursi kayu sederhana, dan pot tanaman—bersahaja sekaligus artistik.

Saya betah berlama-lama.

Di gandhok tengen dan kiwo, saya menemukan poster bertuliskan:

“This living museum is seriously endangered”, disertai foto sebelum dan sesudah gempa 2006.

Sebelum pamit, saya bertanya apakah ada joglo lain di sekitar. Lelaki itu menunjuk ke seberang, sekitar seratus meter. Saya ke sana. Joglo itu tertutup, tanpa aktivitas. Ia berdiri seperti rumah yang sedang beristirahat panjang—tak meminta dikunjungi.


Saya kembali melangkah ke arah Gang Soka. Di jalan, perhatian saya tertarik pada Rumah Pesik yang kini menjadi hotel antik. Fasad bangunannya menyimpan detail yang cantik dan matang. Saya berhenti sejenak, memotret, menikmati bagaimana sebuah rumah lama bisa berubah fungsi tanpa kehilangan wajah dan martabatnya.

Saya masuk ke halamannya. Di dalam, ada ruang museum kecil, patung-patung bergaya Romawi, serta ukiran kayu dengan nuansa Jawa yang kental. Perpaduan yang tampak sesuka hati, tetapi justru reminded suasana magis—seperti rumah yang menyimpan banyak lapisan cerita dan tidak semuanya ingin ia ceritakan sekaligus.

Di pintu gerbang, tertera nama bangunan ini dengan anggun:

Rumah Pesik Art & Heritage Hotel.

Bangunan ini bukan sekadar hotel atau kafe. Ia adalah saksi bisu kejayaan para pengusaha perak Kotagede di masa lalu. Kayu-kayu berukir atau gebyok di ambang pintu menandakan kemewahan khas bangsawan Jawa, sementara warna hijau cerah pada pilar-pilarnya mencerminkan gaya Indische yang populer pada awal abad ke-20.

Di sisi kanan pintu terdapat daftar menu Kopi Kamu. Menikmati kopi di sini rasanya seperti duduk di antara dua waktu: masa lalu yang belum sepenuhnya pergi, dan masa kini yang mencoba bersikap sopan.

Yang membuat saya terdiam sejenak adalah sebuah plakat hitam di dinding kanan. Di situ tertulis bahwa Lech Wałęsa, mantan Presiden Polandia sekaligus peraih Nobel Perdamaian, pernah menginap di tempat ini pada tahun 2010. Sebuah penanda kecil bahwa rumah tua di gang Kotagede ini pernah menjadi bagian dari percakapan dunia.

Selesai menikmati Rumah Pesik, saya bergeser ke bangunan di sebelahnya: Langgar Dhuwur.

Bangunan ini berdiri kokoh dengan perpaduan arsitektur kayu dan dinding putih tebal. Langgar Dhuwur—secara harfiah berarti “langgar tinggi”—merupakan tempat ibadah keluarga yang dibangun di lantai dua atau bagian atas rumah, sebuah ciri khas hunian masyarakat Kotagede sejak abad ke-19.

Dahulu, langgar ini tidak hanya digunakan untuk salat lima waktu oleh keluarga pemilik rumah, tetapi juga menjadi simbol status sosial sekaligus pusat interaksi religius warga sekitar. Kayu-kayu tua yang menyangga balkonnya serta jendela-jendela kecil berteralis besi memperlihatkan gaya Indische yang khas: pertemuan antara estetika Jawa dan pengaruh kolonial.

Hingga kini, Langgar Dhuwur dipertahankan sebagai bagian dari cagar budaya. Ia bukan sekadar bangunan tua, melainkan pengingat bahwa spiritualitas pernah menyatu erat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan dalam ruang yang terbatas.

Saya membaca papan informasi yang terpasang di dinding antara pintu dan jendela yang tertutup rapat. Papan itu menjelaskan bahwa dahulu langgar-langgar dhuwur di Kotagede membentuk lingkaran mengelilingi Kraton Mataram, sehingga kerap dianalogikan dengan masjid pathok negara Karaton Yogyakarta. Kini, yang tersisa hanya dua.

Saya kembali memotret. Bukan untuk pamer, melainkan sebagai cara menyimpan ingatan.

Saat sedang menikmati fasad Langgar Dhuwur dan Rumah Pesik dari luar, dua gadis yang tadi saya lihat di Omah UGM melintas. Mereka berhenti sejenak, lalu berpose di depan rumah dengan pintu dan jendela hijau itu. Dengan sopan saya meminta bantuan salah seorang dari mereka untuk memotret saya dengan latar belakang bangunan tersebut.

Waktu terasa bergerak pelan.

Saya pun kembali ke Kipo Bu Djito. Kali ini bukan untuk mencicipi, melainkan membeli oleh-oleh. Saya membeli dua puluh buah kue kipo. Saya merasa beruntung karena setelah itu, kipo yang tersisa hanya tiga. Pembeli berikutnya hanya kebagian tiga itu saja.

Dari sana perjalanan kembali menyusuri Jalan Mondorakan, jalan utama Kotagede. Di sebelah kanan, berdiri Ndalem Natan, hotel cantik yang tampak menyatu dengan suasana sekitarnya. Setelah melewati Jalan Nyai Pembayun, di sebelah kiri tampak Omah Dhuwur, rumah tua yang kini menjadi kafe dan restoran. Cantiknya bukan main—rasanya pantas jika suatu hari ia dijadikan museum kecil. Namun siang itu saya hanya lewat.

Perjalanan pulang ke Yogyakarta masih cukup jauh. Setelah melewati jembatan di atas Kali Gajah Wong, di sisi kanan jalan saya melihat penjual rujak serut dengan berbagai buah segar. Saya berhenti sejenak, duduk, beristirahat, memesan rujak seharga 12 ribu dan membiarkan kaki dan pikiran sama-sama bernapas.

Kisah apa lagi yang menunggu setelah ini? Itu cerita lain.

Dan begitulah.
Dari kipo ke joglo.
Dari rumah yang runtuh karena gempa ke rumah yang dirawat oleh universitas.
Dari gang sunyi ke jalan pulang.
Kotagede memang seperti itu.
Ia tidak pernah berteriak.
Ia hanya menunggu siapa yang mau berjalan pelan.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.