NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

Bersepeda ke Kota gede : Siapa Takut!

Sepeda melaju santai, karena memang tidak ada yang perlu dikejar. Gowes ke Kotagede selalu paling nikmat kalau tidak diburu jam. Angin pagi menyapu wajah, dan Yogya perlahan berganti ritme. Bangunan kolonial mulai jarang, digantikan rumah-rumah kampung dengan pagar rendah dan halaman sederhana.

Pagi itu Yogya baru saja menggeliat. Tahun 2025 tinggal dua hari lagi berganti. Walau masih pagi, Pasar Ngasem sudah sangat ramai. Karena itu sepeda saya gowes ke arah timur, keluar dari kawasan Jero Beteng lewat Jalan Brigjen Katamso, lalu bergerak ke selatan, dan kembali berbelok ke timur melalui Jalan Kolonel Sugiyono dan Menteri Supeno.

Tujuan kali ini: Kotagede.

Melewati Kali Code, saya masuk kawasan Lowanu. Pohon-pohon tua masih berdiri setia. Rumah-rumah lama tampak seperti tidak terganggu oleh zaman yang berubah terlalu cepat.

Sepeda melaju santai, karena memang tidak ada yang perlu dikejar. Gowes ke Kotagede selalu paling nikmat kalau tidak diburu jam. Angin pagi menyapu wajah, dan Yogya perlahan berganti ritme. Bangunan kolonial mulai jarang, digantikan rumah-rumah kampung dengan pagar rendah dan halaman sederhana.

Memasuki wilayah Kotagede, saya terus saja menuju Jalan Mondorakan. Jalan ini seperti nadi lama Kotagede—hidup, tapi tidak tergesa. Di kanan kiri, toko perak, warung kecil, dan rumah-rumah lawas berdiri berdekatan, seolah saling menguatkan ingatan.

Tujuan awal sebenarnya sederhana: Pasar Legi. Setelah mengayuh cukup jauh, saya melihat penjual dawet di depan pasar. Sayangnya, harapan kadang harus ditunda. Dawet belum siap. Penjualnya masih sibuk, baru hendak membuka lapak.

Tak apa. Perjalanan ini baru dimulai. Masih banyak waktu untuk menikmati minuman segar di tempat lain.

Dari Pasar Legi, saya terus mengayuh ke arah kompleks makam raja-raja Mataram. Pohon beringin tua berusia lebih dari lima abad di area parkir seakan memanggil untuk mampir. Tapi saya sudah beberapa kali ke sini. Kali ini cukup melambaikan tangan pada candi bentar bergaya Majapahit di kejauhan.

Saya teringat pernah ke sini bersama Mbak Mutiah beberapa waktu lalu.

Sepeda kemudian melaju melewati jalan kecil yang asri, menuju Watu Gilang—batu bersejarah yang menyimpan cerita kekuasaan dan peralihan takhta. Saya pernah ke Living Museum dan mendengar kisah lengkap tentang batu ini. Watu Gilang dipercaya sebagai singgasana raja-raja Mataram Islam, berupa papan batu hitam legam. Pada sisi atasnya terdapat prasasti dalam berbagai bahasa. Keberadaan prasasti ini masih memunculkan banyak versi dan kontroversi.

Tak jauh dari situ ada Watu Gatheng, tiga batu bulat masif menyerupai bola, berwarna kekuning-kuningan.

Sebelumnya saya sempat melihat pintu gerbang Kompleks Makam Hasta Renggo, tempat pemakaman keluarga Sultan HB VIII. Seperti juga dulu, kali ini saya hanya lewat, lalu terus mengayuh melewati jalan kuno berbatu cobblestone di belakang situs Watu Gilang.

Suasana perkampungan sangat dominan. Di sebelah kanan jalan, terdapat papan informasi tentang Benteng Cepuri. Benteng ini dibangun pada masa Panembahan Senapati, lalu diperkuat dan disempurnakan pada masa Sultan Agung. Istilah cepuri merujuk pada benteng bagian dalam yang berfungsi melindungi kawasan inti keraton, berbeda dengan benteng luar (baluwarti) seperti yang kini dikenal di Kraton Yogyakarta.

Di beberapa bagian masih tampak sisa tembok, sudut, dan jalur yang dulu berfungsi sebagai pengaman kawasan penting kerajaan.

Saya melanjutkan gowes melewati lorong sempit, lalu keluar di jalan di samping Hasta Renggo, sebelum kembali mengarah ke Pasar Legi.

Kali ini saya mampir sejenak di gerbang ikonik Between Two Gates (Lawang Pethuk). Pada gerbang ini tertulis angka 1923, penanda masa kejayaan ekonomi saudagar Kotagede pada awal abad ke-20. Gang ini dinamakan demikian karena diapit dua gerbang—utara dan selatan—yang dahulu ditutup setiap malam untuk menjaga keamanan dan privasi keluarga besar penghuninya.

Disebut Lawang Pethuk karena pintu-pintu rumah tradisional di sepanjang lorong dibangun saling berhadapan, melambangkan kerukunan antar tetangga.

Saya kemudian masuk ke gang bertanda Kampung Wisata Purbayan. Informasi pada papan penanda menegaskan Purbayan sebagai Kampung Pusaka dan Penjaga Tradisi. Artinya, kawasan ini bukan sekadar permukiman tua, melainkan ruang hidup yang masih merawat warisan sejarah, budaya, dan nilai-nilai Mataram Islam. Secara simbolik, Purbayan berada dalam lingkar penting Kotagede—dekat jejak keraton lama, benteng, makam raja, dan kampung-kampung abdi dalem.

Secara visual, ornamen bunga-mandala di tengah papan mencerminkan harmoni, keteraturan, dan filosofi Jawa tentang keseimbangan hidup. Letak papan di mulut kampung memberi pesan: siapa pun yang melangkah masuk, sedang memasuki ruang dengan ingatan panjang—bukan kampung biasa, tetapi kampung yang sadar sejarah dan berupaya menjaganya.

Saya masuk ke gang-gang dan lorong kampung ini. Sunyi, sepi, dan mengesankan.

Jalan-jalan ke Kotagede memang selalu mengasyikkan. Semakin sering datang, semakin sadar bahwa tidak semua harus dikunjungi ulang. Beberapa tempat cukup dilewati, sekadar memberi salam. Namun ada satu yang hampir tak pernah terlewatkan: Kipo Bu Djito.

Sebelumnya saya mampir ke sebuah kios kecil untuk membeli es teh—sekadar beristirahat dan menikmati segarnya minuman sebelum melanjutkan pengembaraan.

Kotagede memang lebih asyik dijelajahi dengan sepeda. Dalam beberapa kunjungan sebelumnya, banyak tempat tersembunyi di lorong dan jalan sempit yang luput dari perhatian karena tak bisa dilalui kendaraan roda empat. Bahkan ada yang dulu saya cari berputar-putar dengan mobil tapi tak pernah ketemu; kini, dengan sepeda, semuanya terasa lebih dekat dan mudah dijangkau.

Tepat di seberang Kipo Bu Djito, saya menemukan Gang Soka. Di mulut gang terdapat petunjuk arah ke Omah UGM—situs yang dulu sulit saya temukan dengan mobil, namun kini begitu mudah dijumpai hanya dengan mengikuti papan kecil di persimpangan.

Masuk Gang Soka, saya mengayuh perlahan menuju Omah UGM. Rumah lama yang kini menjadi ruang kreatif itu selalu memberi kesan bahwa bangunan tua tak harus menjadi museum yang kaku. Ia bisa hidup, bernapas, dan menerima tamu dengan cara yang hangat.

Cerita lengkapnya akan saya tulis dalam artikel berikutnya.

Yuk, kita tunggu bersama.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.