Selepas berkeliling di Beppu Eki dan berkenalan dengan Aburaya Kumahachi, tibalah waktunya kembali ke peron untuk melanjutkan perjalanan yang sejak awal saya nantikan. Di papan keberangkatan, nama ASO BOY! muncul dengan huruf yang terasa lebih ceria dibanding kereta lain. Kereta ini akan membawa saya keluar dari kota pemandian, menembus pedalaman Kyushu, menuju Gunung Aso.
Tiba di peron, rangkaian ASO BOY! sudah menunggu. Gagah dan kekar, dengan kombinasi warna hitam-putih yang kontras dengan peron, membuatnya tampak seperti tamu istimewa di antara kereta-kereta lain yang seragam.
Masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum keberangkatan. Banyak penumpang memanfaatkan waktu itu untuk berfoto—dengan latar belakang gerbong atau maskot anjing kecil bernama Kuro yang ikonik. Maskot inilah yang membuat kereta ini menjadi favorit anak-anak sekaligus orang dewasa. Tak heran, mendapatkan tiket ASO BOY!, apalagi untuk perjalanan mendadak, rasanya seperti menang undian.
Penampilannya cantik, nyaris seperti mainan yang dibesarkan ukurannya. Kuro tersenyum di badan kereta. Bukan senyum yang dibuat-buat, melainkan senyum yang seolah mengundang: ayo ikut, perjalanan ini tidak perlu tergesa. Nikmati saja.
Saya pun berhenti sejenak, ikut berfoto di depan kereta, seperti hampir semua penumpang lain. Ada keluarga, pasangan muda, juga beberapa pelancong yang datang sendirian. Di wajah mereka tampak ekspresi yang sama: rasa ingin tahu yang tenang.
Begitu masuk ke gerbong, suasana langsung berubah. Dunia di dalam terasa lebih hangat. Kursi-kursi bersih berwarna lembut berjajar rapi. Kursi berlapis kain merah bermotif kotak dipadukan dengan sandaran kepala krem yang memberi kesan rapi sekaligus ramah. Tirai kuning bermotif karakter kecil—khas kereta wisata Jepang—ditarik setengah, membiarkan cahaya siang masuk lembut melalui jendela besar di sisi kanan.
Tak lama, kereta berangkat. Beppu perlahan menjauh, digantikan lanskap Oita yang tenang: rumah-rumah rendah, ladang kecil, dan sesekali sungai yang memantulkan cahaya siang. Di dalam gerbong tak ada hiruk-pikuk. Anak-anak tertawa pelan, orang dewasa berbicara lirih. ASO BOY! bukan kereta yang mengajak kita cepat sampai, melainkan mengajak kita hadir.
Saya kemudian berjalan dari satu gerbong ke gerbong lain, mengamati dan menikmati suasana. Yang langsung terasa adalah banyaknya keluarga dengan anak-anak. Wajar, ASO BOY! memang bagian dari rangkaian Design & Story Train milik JR Kyushu—kereta wisata dengan desain dan cerita yang dirancang khusus. Kereta ini ditujukan untuk semua usia, namun jelas memberi perhatian lebih pada pengalaman keluarga.
Rangkaian ASO BOY! hanya terdiri dari empat gerbong, tetapi masing-masing memiliki karakter sendiri. Semua kursi dilengkapi jendela besar, memungkinkan penumpang menikmati panorama pedalaman Kyushu—pegunungan, lembah, dan lanskap yang terbentang tenang.
Kereta ini menggunakan formasi empat gerbong Diesel Multiple Unit (DMU) yang dimodifikasi khusus untuk layanan wisata. Gerbong satu berada di ujung Miyaji, sementara gerbong empat di ujung Kumamoto.
Dari gerbong dua, tempat saya duduk, saya berjalan ke gerbong satu. Atmosfernya terasa lebih lapang, berkat konfigurasi tempat duduk dua-satu dan jendela besar yang memberi pandangan luas ke depan dan samping. Kursi di baris paling ujung menjadi favorit—sebuah tempat untuk membiarkan mata berjalan lebih dulu daripada pikiran.
Dari sana saya kembali ke gerbong dua, lalu menyelinap ke gerbong tiga—gerbong favorit keluarga, yang dikenal sebagai Family & Kids Space. Ciri khasnya adalah White “Kuro” Seat, kursi putih yang dirancang agar anak selalu mendapatkan tempat dekat jendela saat duduk bersama orang dewasa. Dalam bahasa Jepang, ruang ini disebut Kuro-shitsu.
Di gerbong ini terdapat ruang bermain anak dengan kolam bola kayu, area yang aman dan menyenangkan. Bagi yang lapar, tersedia Kuro Cafe, kafe mungil yang menjual beragam camilan khas Jepang. Ada pula perpustakaan mini—area santai untuk membaca—dengan koleksi yang tentu didominasi buku cerita anak.
Dari dalam gerbong, sosok anjing hitam kecil Kuro-chan kembali muncul. Nama lengkapnya Kuroemon, maskot resmi ASO BOY! yang juga menghiasi bagian luar kereta.
Di Kuro Cafe, terdapat sofa kulit putih dengan desain melengkung dan aksen kancing. Lantainya bermotif garis-garis kayu yang memberi kesan hangat sekaligus mewah—sentuhan khas desainer ternama Eiji Mitooka. Di dekat jendela bergambar Kuro-chan, terpasang papan bertuliskan “ASO BOY!” lengkap dengan tanggal perjalanan. Papan ini kerap digunakan penumpang untuk berfoto, sebagai penanda bahwa mereka pernah berada di sini.
Tak ketinggalan, tersedia kartu pos gratis bergambar kereta ASO BOY!. Saya mengambil satu. Koleksi kartu pos saya kini bertambah: A Train, Yufuin no Mori, dan ASO BOY!—tiga kereta D&S paling populer di Kyushu.
Gerbong empat tak kalah istimewa. Di sini terdapat sofa panjang dan bangku yang menghadap jendela, tempat penumpang bisa bersantai sambil menikmati pemandangan selama perjalanan sekitar tiga setengah jam menuju Kumamoto—meski saya sendiri akan turun lebih awal, di Aso.
Kereta melaju, stasiun demi stasiun terlewati: Oita, Bungo-Taketa, Miyaji. Di luar, sawah mulai memudar warnanya, bukit-bukit naik turun, dan langit Kyushu perlahan berubah. Waktu bergerak tanpa terasa. Cahaya menguning, bayangan memanjang di ladang dan lereng.
Menjelang Aso, langit mulai redup. Di kejauhan, Gunung Aso muncul perlahan—samar namun tegas. Bukan pemandangan dramatis penuh kejutan, melainkan keindahan yang hadir dalam senyap senja.
Saat kereta melambat mendekati Stasiun Aso, hari telah menjelang malam. Lampu-lampu stasiun menyala satu per satu. Gunung Aso masih tampak di kejauhan, seperti penjaga sunyi yang menunggu para penumpang turun dengan selamat.
Saya melangkah turun dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar rasa “sudah sampai”, melainkan rasa sudah diajak berjalan bersama. Dari Beppu ke Aso, ini bukan hanya perpindahan tempat, tetapi perpindahan suasana. ASO BOY! tidak membawa saya cepat—ia membawa saya pulang, entah ke mana, tapi rasanya tepat.
Nanti, foto-foto akan ditata. Kartu pos akan diselipkan di buku. Namun perjalanan itu sendiri—dengan cahaya sore dan siluet Gunung Aso—telah cukup menjadi arsip di ingatan.
Di Stasiun Aso, kami hanya singgah sebentar. Perjalanan masih panjang. Lima belas menit kemudian, kereta regional menuju Kumamoto pun tiba.



