NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

Zig-Zag di Kaldera : Catatan Perjalanan Kereta dari Aso ke Kumamoto

(taufik hidayat/cgwtravel.com)

Perjalanan hari ini terasa seperti sebuah ziarah kereta api. Sejak siang, estafet sudah dimulai: naik Yufuin no Mori dari Yufuin ke Beppu, lalu berlanjut dengan Aso Boy! menuju Aso. Setelah dua jam dimanjakan interior kayu yang hangat dan jendela observasi lebar Aso Boy!, kami tiba di Stasiun Aso. Di sini kami mengucapkan selamat jalan kepada kereta wisata itu—ia harus melanjutkan perjalanan ke Kumamoto, sementara kami masih harus berpindah ke kereta regional menuju Higo-Ozu . Peron pun harus berganti.

Saya sempat berdiri sejenak, memperhatikan suasana Stasiun Aso. Peron ini ikonik, menghadirkan pedesaan Jepang yang bersahaja namun bertemu langsung dengan kemegahan alam. Dari kejauhan, Gunung Aso tampak dengan kepulan asap dari kawah aktifnya, memberi sensasi berdiri di tengah salah satu kaldera terbesar di dunia.

Elemen kayu mendominasi tiang penyangga dan atap peron, menciptakan nuansa retro yang hangat dan bersahabat. Desain ini selaras dengan bangunan utama stasiun yang klasik. Sebagai titik singgah utama kereta wisata Aso Boy!, dekorasi “Kuro”—anjing hitam maskot kereta—hadir di mana-mana. Bahkan ada sebuah ruangan kecil bernama Kuro Ekicho-shitsu, Kantor Kepala Stasiun Kuro, yang mengundang senyum siapa pun yang melihatnya.

Stasiun Aso bersifat terbuka. Udara pegunungan yang segar dan hamparan hijau di sekelilingnya membuat waktu seolah melambat.

Tak sampai sepuluh menit menunggu, rangkaian JR Hohi  Line tiba. Di sinilah petualangan yang terasa “sebenarnya” dimulai. Kami tidak lagi merasa sebagai wisatawan, melainkan seperti warga lokal yang pulang-pergi.

Begitu meninggalkan Aso, kereta regional ini melewati stasiun-stasiun kecil yang sepi namun memikat: Uchinomaki, Ichinokawa, hingga Akamizu. Saya sempat mengabadikan papan nama stasiun-stasiun itu. Namun yang menanti di depan sungguh mengejutkan. Saat mendekati Tateno, kereta berhenti sebentar.

Di sinilah ritual maju-mundur itu berlangsung. Karena kecuraman tebing yang ekstrem, kereta tidak bisa langsung meluncur turun. Dalam istilah teknis, inilah switchback Tateno. Gerbong bergerak zig-zag, maju lalu mundur pada ketinggian yang berbeda. Bahkan masinis berpindah dari satu ujung kereta ke ujung lainnya untuk melanjutkan perjalanan.

Melihat rel yang barusan kita lalui kini berada jauh di atas kepala adalah pengalaman yang magis. Inilah cara Jepang menghormati alam: bukan dengan memotong gunung secara kasar, melainkan “menari” mengikutinya.

Kami beruntung masih bisa menyaksikan ritual itu, ditemani cahaya lembayung senja yang perlahan turun di ufuk barat. Tak lama kemudian, saat matahari benar-benar tenggelam, kereta tiba di Higo-Ozu.. Menariknya, meski masih berada di jalur JR Hōhi Line, kami tetap harus berpindah kereta. Jalur antara Higo-Ozu dan Kumamoto menggunakan kereta listrik, sementara rangkaian dari Aso tadi masih bermesin diesel.

Mesin diesel yang meraung di pegunungan digantikan oleh kereta listrik yang lebih senyap. Kami pun meninggalkan dunia pedesaan dan bersiap memasuki ritme urban.

Dari Higo-Özü , perjalanan terasa lebih teratur dengan sebelas pemberhentian di pinggiran Kumamoto. Rasanya seperti naik KRL di lintasan Bogor–Kota atau Tanah Abang–Angke. Nama-nama stasiun lewat satu per satu: Haramizu, Sanrigi, hingga Hikari-no-Mori yang modern.

Memasuki wilayah kota, kereta melintas Suizenji—yang terkenal dengan taman indahnya—lalu Shin-Suizenji dan Heisei, sebelum akhirnya melambat mantap di Stasiun Kumamoto yang ramai.

Perjalanan sekitar satu setengah jam ini seperti rangkuman geografi: dari kawah purba gunung berapi, menukik lewat switchback yang teknis, hingga berakhir di denyut kota Kumamoto. Jika dihitung sejak berangkat dari Yufuin siang tadi, lebih dari tujuh jam telah berlalu—diisi kereta, jalan-jalan, dan perpindahan di Beppu, Aso, serta Higo-Ozu.

Waktu menunjukkan pukul tujuh tiga puluh malam.. Sebelum kembali ke Fukuoka dengan shinkansen, kami mampir ke food court untuk mencari makan malam. Pilihan jatuh pada teishoku, set menu Jepang dengan dua lauk utama: saba no shioyaki, makarel panggang garam di piring hitam, dan gyūsara, daging sapi yang disajikan terpisah dari nasi. Set ini lengkap dengan gohan dan miso shiru berisi rumput laut dan daun bawang.

Selepas makan, kami menuju peron shinkansen dan naik Sakura menuju Fukuoka. Hampir pukul 21.30 saat kami tiba kembali di Stasiun Hakata dan check-in di ANA Crowne Plaza. Hari panjang itu ditutup oleh dengung kereta yang perlahan mereda, meninggalkan jejak perjalanan yang masih hangat di kepala.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.