Sudah beberapa kali saya menjejakkan kaki di Jepang, namun kebanyakan perjalanan itu membawa saya ke Pulau Honshu: Tokyo yang gemerlap, Osaka yang penuh semangat, Hiroshima yang diam-diam menyimpan kesedihan. Kali ini, langkah saya menyimpang ke arah yang berbeda—menuju selatan, menuju Kyushu. Pulau yang selama ini hanya saya kenal dari peta dan cerita.
Saya ingin melihat sisi lain dari Jepang: sisi yang mungkin tak banyak disentuh turis biasa, sisi yang barangkali bisa memperluas bukan hanya wawasan tentang negeri ini, tetapi juga cara saya merasakan sebuah perjalanan.
Pesawat Cathay Pacific yang kami tumpangi dari Hong Kong mendarat mulus di Bandara Internasional Fukuoka. Udara terasa lebih hangat dibanding Tokyo atau Sapporo, seakan menyambut dengan ramah. Petugas bandara bekerja dengan ketepatan yang sudah saya duga dari Jepang—cepat, ramah, dan efisien. Hanya dalam hitungan menit, kami sudah melewati imigrasi dan bea cukai, lalu menuju terminal domestik. Namun kali ini, tak ada penerbangan lanjutan. Petualangan dimulai di sini.
Fukuoka adalah kota terbesar di Kyushu, sekaligus jendela pertama untuk melihat wajah selatan Jepang. Bandara ini memiliki satu kelebihan yang langsung membuat saya kagum: lokasinya sangat dekat dengan pusat kota. Tak perlu perjalanan panjang seperti dari Narita ke Tokyo. Hanya beberapa menit dengan kereta bawah tanah, kami sudah tiba di jantung kota.
Stasiun metro bandara bersih, rapi, dan modern. Mesin tiket otomatis berjajar, dikerumuni penumpang dari berbagai negara yang sibuk dengan koper dan layar sentuh yang responsif. Kami membeli tiket one-day pass seharga 640 yen—jauh lebih hemat dibanding tiket sekali jalan seharga 260 yen. Setelah check-in di hotel, kami berencana langsung menjelajahi kota.
Kereta Fukuoka City Subway Kuko Line membawa kami ke Stasiun Hakata hanya dalam lima menit. Berkode K13, stasiun ini lebih dari sekadar terminal. Ia adalah denyut nadi kota—tempat orang-orang berpindah, bertemu, dan menunggu. Modernitas Jepang terasa begitu nyata: arsitektur yang bersih, papan petunjuk digital, dan petugas yang sigap membantu siapa pun yang tersesat.
Tujuan pertama kami adalah kantor JR Kyushu untuk menukar JR Pass yang telah dipesan secara daring. Pass ini berlaku lima hari untuk wilayah utara Kyushu: Fukuoka, Kumamoto, Nagasaki, Yufuin, Beppu, hingga Oita. Rencana perjalanan sudah tersusun rapi, namun hari ini Fukuoka adalah panggung utamanya.
Stasiun Hakata bukan hanya simpul transportasi, tetapi juga titik pertemuan berbagai hal: budaya, makanan, dan ritme kehidupan sehari-hari. Kami menyusuri lorong-lorongnya, melewati kedai ramen dengan aroma kuah yang menggoda, deretan konbini seperti 7-Eleven dan Lawson, hingga toko oleh-oleh yang menjual mentaiko dan manju.
Saya sempat berhenti di depan sebuah patung perempuan berkebaya kimono yang berdiri anggun di pelataran. Tak ada penjelasan dalam bahasa Inggris, hanya aksara kanji di bagian bawahnya. Siapakah dia? Seniman? Tokoh lokal? Saya tak tahu. Namun ia berdiri di sana, menjadi saksi bisu hiruk-pikuk yang tak pernah benar-benar berhenti.
Setelah check-in dan beristirahat sejenak di hotel—hanya lima menit berjalan kaki dari stasiun—kami kembali ke luar saat senja mulai turun. Fukuoka perlahan berganti wajah. Cahaya kota menyalakan suasana yang berbeda: lebih hangat, lebih personal. Kami kembali ke stasiun, kali ini tanpa tujuan khusus, hanya mencari makan malam.
Di tengah perjalanan, saya menemukan sesuatu yang tak saya duga masih bertahan di era digital: sebuah telepon umum berwarna hijau. Masih menyala. Masih berfungsi. Tulisan digital “International & Domestic” terpampang di layar kecilnya. Ada slot koin dan kartu, lengkap dengan petunjuk pemakaian serta nomor darurat—110 untuk polisi dan 119 untuk pemadam kebakaran. Saya mendekat dan menyentuh gagangnya. Tak berdebu. Ia benar-benar masih hidup.
Malam itu kami naik subway menuju Tenjin. Gerbong kereta bersih, tenang, dan nyaman. Kursi prioritas ditandai warna hijau dengan sarung putih bersih. Di Jepang, bahkan tempat duduk pun terasa seperti karya kecil yang dipikirkan dengan serius. Di Tenjin Underground Shopping, suasana relatif lengang. Lorong-lorongnya lebih menyerupai galeri daripada pusat belanja. Kami berjalan tanpa terburu-buru, tanpa tujuan jelas—hanya meresapi.
Akhirnya kami duduk di sebuah restoran kecil dan memesan ramen. Kuahnya kaya rasa, dan semangkuk ramen terasa jauh lebih bermakna setelah perjalanan panjang. Kehangatan itu bukan hanya dari uap panasnya, tetapi juga dari keheningan momen: duduk di kota asing, bersama orang terdekat, menikmati makan malam tanpa perlu banyak kata.
Usai makan, kami kembali ke Hakata. Di luar stasiun, tulisan besar “JR Hakata City” menyala terang. Tempat ini bukan sekadar stasiun. Ia adalah pusat denyut kota—dan mungkin juga denyut awal dari perjalanan panjang kami di Kyushu.
Malam itu saya sempat berbincang dengan resepsionis hotel tentang telepon umum yang saya lihat. Ia menjelaskan bahwa pemerintah Jepang masih mempertahankan telepon-telepon tersebut untuk keadaan darurat. Jika terjadi bencana dan jaringan seluler lumpuh, masyarakat tetap bisa menghubungi layanan penting secara gratis melalui telepon umum. Di negara maju seperti Jepang, teknologi lama tidak serta-merta dibuang. Ia dirawat, disiapkan untuk masa krisis. Betapa kontras dengan Indonesia, di mana telepon umum kini tinggal kenangan.
Malam pertama di Kyushu bukan tentang destinasi besar atau tempat wisata terkenal. Ia justru tentang detail kecil: kereta yang datang tepat waktu, patung yang menimbulkan rasa ingin tahu, dan telepon umum yang setia menunggu digunakan. Tentang bagaimana sebuah kota memperlakukan kita sebagai tamu—dengan ketenangan, kehangatan, dan rasa hormat.
Esok pagi, kami akan naik kereta menuju Nagasaki, kota yang sarat sejarah dan emosi. Namun malam ini, saya memilih duduk di dekat jendela kamar hotel, menatap langit Fukuoka yang kian gelap. Ada rasa syukur yang merayap pelan. Saya ada di sini—di pulau yang dulu hanya sebuah nama di peta. Dan perjalanan baru saja dimulai.



