Sehabis makan siang di warung mie ayam Surya, perut kami semua terasa penuh dan hangat. Meja-meja di sudut rumah makan itu masih menyisakan aroma bawang putih goreng dan kaldu ayam yang meresap ke udara. Namun siang itu, bukannya langsung pulang, kami justru memutuskan untuk menuntaskan rasa penasaran yang tersisa sejak pagi. Ada beberapa tempat yang seharusnya sudah kami kunjungi dalam rangkaian napak tilas, tapi terlewat atau hanya sempat dilihat sekilas. Tempat pertama yang akan kami kunjungi lagi siang ini namanya sering disebut orang Bekasi ketika berbicara tentang sejarah dan tradisi Tionghoa di kota ini — Kelenteng Hok Lay Kiong.
Kami bertujuh: saya, Pak Sutiono, dan lima sekawan yang energinya seakan tidak pernah habis — Mbak Amel, Hida Qudus, Kurnia, Mila, dan Mirna. Mungkin di mata orang lain, perjalanan kami terlihat seperti sekadar jalan-jalan biasa. Tapi buat kami, ini adalah kelanjutan dari benang merah napak tilas yang sudah dimulai sejak pagi. Kami kembali menyusuri jalan Mayor Oking dan kemudian belok kiri di Jalan Kenari tempat gapura kelenteng berdiri seakan kembali mengucapkan selamat datang.
Di kursi panjang di dekat gapura ada beberapa warga perempuan tua etnis Tionghoa yang sedang berbicara. Uniknya logat dan bahasa yang digunakan seperti bahasa Betawi pinggiran.
Di depan kelenteng, suasana begitu tenang. Tak ada rombongan besar, tak ada hiruk-pikuk seperti pagi tadi. Justru suasana itu memberi kami keleluasaan untuk berfoto di pelataran. Beberapa dari kami bergantian memegang kamera ponsel lalu meminta bantuan seorang perempuan Tionghoa yang datang bersama seorang lelaki berkulit putih. Belakangan kami tahu, mereka datang untuk bersembahyang. Perempuan itu memotret kami dengan senyum ramah, lalu beranjak ke dalam bersama pasangannya, membawa hio.
Kami pun melangkah masuk, memberi salam dan meminta izin kepada penjaga kelenteng. Langkah pertama membawa kami ke beranda — ruang transisi antara dunia luar dan dunia dalam, di mana nuansa sejarah dan spiritual mulai terasa. Di sini, pandangan saya langsung tertarik pada lima pintu yang berjajar di hadapan. Pintu-pintu itu berdaun kayu tebal, ada yang berhias ukiran naga yang meliuk, ada juga yang berikutnya gambar dewa memegang senjata dengan berewok yang lebat . Awalnya saya mengira salah satunya adalah Kwan Kong, sang dewa perang yang gagah berani. Tapi ketika saya kemudian bertanya pada Pak Benny — yang ternyata adalah pengurus kelenteng — beliau tersenyum sambil mengoreksi. “Bukan, itu Men Shen, penjaga pintu,” katanya. Wah siapa sangka hio lo yang tadi pagi saya lihat ada di depan pintu utama itu didedikasikan untuk dewa penjaga pintu.
Ah, benar saja. Men Shen bukan hanya sekadar hiasan, melainkan penjaga simbolis yang diyakini menolak bala dan membawa keberuntungan. Menariknya, setiap pintu ini memiliki nama yang tertera di bagian atas, ditulis dari kanan ke kiri sesuai tradisi Tionghoa. Pintu pertama bertuliskan Run Gong Men, pintu berikutnya Xuan Tian Ge.
Run Gong Men berarti “Pintu Istana Kebajikan” atau “Gerbang Balai Kebajikan”.
Biasanya nama ini dipakai untuk menandai pintu menuju area yang didedikasikan untuk dewa atau altar yang melambangkan nilai kebajikan dan welas asih.
Xuan Tian Ge berarti “Paviliun Langit Agung” atau “Balai Surga Misterius”. Nama ini merujuk pada ruang suci yang berkaitan dengan Xuan Tian Shang Di, yaitu Kaisar Surga yang juga dikenal sebagai Dewa Utara atau Bei Di, pelindung dari kekuatan jahat.
Nama-nama ini seperti pintu ke dunia simbol yang hanya bisa dipahami jika kita mau berhenti sejenak untuk membaca.
Beranda juga dihiasi lampion-lampion berwarna merah, dari ukuran besar yang menggantung hingga yang kecil berderet rapi. Setiap lampion memuat nama penyumbangnya — sebuah tradisi yang mengikat hubungan spiritual dengan kontribusi nyata. Dari sini, pandangan saya bisa menembus ke dalam, melihat deretan lima pintu tadi dari sisi lain.
Memasuki ruang utama, altar pertama yang mencolok adalah tempat bersemayamnya tiga dewa penting: Kwan Seng Tek Khun (Guan Gong), Kwan Im Po Sat (Dewi Welas Asih), dan Cai Shen Loya (Dewa Rezeki). Asap hio tipis mengepul, membentuk garis-garis samar yang menari di udara. Bau harum kayu cendana dan dupa memenuhi paru-paru, menenangkan pikiran.
Di sisi kanan, ada relief Dewi Kwan Im yang sedang terbang anggun di atas teratai , dan satu lagi relief unik: Kwan Im yang berdiri di atas seekor naga ular, membawa pesan tentang kebijaksanaan yang mengatasi kekuatan liar. Di tengahnya ada relief dewa yang mengenakan pakaian perang dan membawa pedang, Relief-relief ini terasa hidup, meski diam tak bergerak.
Di depan relief tenang ada kotak amal untuk kelenteng berwarna merah dan tampak unik karena cara memasukkannya uang atau amplop dengan menarik dan mendorong lacii.
Di sisi lain, dekat kolam kecil berisi ikan koi, ada patung dewa pemancing — mengingatkan saya pada patung serupa yang pernah saya lihat di Lasem. Ini adalah dewa yang bernama Jiang Taigong (姜太公).
Nama lengkapnya Jiang Ziya (姜子牙), seorang tokoh legendaris Tiongkok dari zaman Dinasti Zhou. Beliau dikenal sebagai menteri bijak dan ahli strategi.
Dewa ini sedang duduk memancing dengan kail lurus tanpa umpan, melambangkan kesabaran, kebijaksanaan, dan keyakinan bahwa “orang yang tepat akan datang sendiri.”
Di tepi kolam, ada sebuah prasasti mencatat renovasi kelenteng pada tahun 1990. Di sini, waktu terasa seperti mengalir dalam dua arah: ke masa lalu yang jauh, dan ke hari ini yang tenang.
Pak Benny, yang memperkenalkan dirinya sebagai pengurus kelenteng langsung kami daulat sebagai pemandu. Ia mulai bercerita. “Tuan rumah kelenteng ini adalah Hok Tek Ceng Sin, dewa bumi dan obat,” jelasnya. Menariknya, ajaran yang dianut di sini adalah Tri Dharma — gabungan tiga ajaran besar: Konfusianisme, Buddhisme, dan Taoisme. Di altar lantai atas, patung Konghucu, Buddha Sakyamuni, dan Laozi duduk sejajar, melambangkan harmoni lintas ajaran.
Ketika saya bertanya apa arti Hok Lay Kiong, Pak Benny menjelaskan jika Hok berbatu keberuntungan, Lay artinya datang sedangkan Kiong berarti Istana, sehingga Hok Lay Kiong bisa diartikan dengan Istana yang Mendatangkan Rezeki.
Pak Benny juga bercerita bahwa ada belasan dewa yang dipuja di kelenteng ini. Arah dan urutan sembahyang sebenarnya sudah diatur urutannya, bahkan setiap altar sudah diberi nomer urut dan hanya memerlukan satu batang hio. Tapi jemaah bebas memilih, mau memulai dari dewa mana pun. Ini memberi kesan bahwa meski ada aturan, kebebasan tetap dihargai.
Salah satu pengalaman menarik adalah melihat orang melakukan ciam sie — ritual mengocok batang bambu kecil yang tersimpan dalam tabung, hingga satu batang terjatuh. Nomor yang tertera akan dicocokkan dengan kertas ramalan. Ada dua jenis di sini: ramalan nasib dan ramalan obat. Mbak Amel dan Kurnia mencoba, tampak khusyuk saat mengocok tabung, lalu hening sejenak membaca hasilnya. Mbak Kurnia mendapatkan ciam sie obat dari Kongco dengan nomer 78. Kongco adalah sebutan untuk dewa tuan rumah yang bermakna kakek buyut sementara untuk dewi seperti di klenteng Lasem disebut dengan Makco.
Kertas kuning resep obat no 78 dalam huruf Hanzi ini dapat direbut di sinshe alias tabib obat Tionghoa.
Di berbagai sudut kelenteng ada kotak donasi tersedia. Ada kotak untuk kelenteng, ada pula kotak khusus untuk karyawan. “Bahkan di sini ada karyawan yang Muslim,” kata Pak Benny sambil menunjuk dua orang penjaga. Salah satunya sudah bekerja di sini selama empat puluh tahun. Cerita ini menegaskan bahwa kelenteng bukan hanya milik satu agama, melainkan juga tempat perjumpaan lintas keyakinan.
Di dinding, sebuah pengumuman mencatat acara Cioko yang akan digelar pada 10 September mendatang — upacara besar memberi persembahan bagi arwah yang terlantar. Pak Benny menjelaskan bahwa tanggal itu mengikuti penanggalan Imlek, tepatnya di bulan ketujuh yang dikenal sebagai bulan hantu. Cit Gwee Cap Kau atau tanggal 19 bulan tujuh Imlek merupakan puncak perayaan Cioko di kelenteng ini walau perayaan sebenarnya biasanya saat tanggal 15. Saya ingat di Hong Kong Cioko ini disebut dengan istilah Hungry Ghost Festival dalam bahasa Inggris.
Kami lalu naik ke lantai dua. Disini tridarma atau sankao sangat terasa dengan adanya tiga patung yang berdiri sejajar: Kong hu Cu, Sakyamuni, dan Laotzu. Di sebelahnya ada patung Buddha Maitreya atau Buddha tertawa menyambut, perutnya yang buncit mengundang senyum.
Di sudut lain, patung Chao Kun Kong berdiri gagah. Menurut Pak Benny, ini juga salah satu dewa obat. Ruang ini terasa lebih terang, mungkin karena letaknya lebih tinggi.
Ketika kami turun , di dekat tangga ada berderet tandu kayu yang digunakan untuk menggotong dewa pada saat ritual atau festival tertentu.
Tidak terasa lebih satu jam kami berada di kelenteng ini. Mengupas dengan untai sejarah kelenteng yang sudah berusia lebih 300 tahun. Pak Benny juga bercerita bahwa renovasi dan perluasan terakhir kelenteng sekaligus vihara ini dilaksanakan pada tahun 2020 lalu.
Sebelum pulang, kami sempat berfoto bersama. Namun hujan mulai turun. Rintiknya memukul pelataran, menciptakan aroma tanah basah bercampur dupa. Hujan makin lebat sehingga kami membatalkan rencana untuk kembali ke alun-alun.
Kami segera memesan taksi online dan sebelum meninggalkan kelenteng, sambil melindungi tubuh dengan payung, saya melihat kembali ke pintu gerbang, saya berhenti sejenak, membaca tulisan vertikal (dulian ) yang terukir di kedua sisi.
Di sebelah kiri : Lai lai qu qu bu yong chou — Datang dan pergi tanpa cemas.
Sementara di sebelah kanan : Fu lu jie you xin zhong zao — Kebahagiaan dan berkah lahir dari hati.
Kata-kata itu seperti menutup perjalanan hari ini dengan pesan yang sederhana tapi dalam. Bahwa tempat ini bukan hanya bangunan indah dengan sejarah panjang, tapi juga ruang untuk mengingat bahwa semua yang kita cari sebenarnya sudah ada di dalam hati.
Kami berfoto bersama, lalu berpamitan. Langkah kami keluar diiringi hujan yang makin deras, tapi entah mengapa, hati terasa ringan. Mungkin benar kata duilian itu — datang dan pergi tanpa cemas, karena keberkahan ada di sini, di hati.



