NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

Pengalaman Naik  Taksi Daring di Osaka

(Taufik Hidayat/cgwtravel.com)

Setelah lima jam terbang dari Hong Kong—ditambah transit singkat di Taipei—pesawat B777 Cathay Pacific yang kami tumpangi akhirnya menurunkan rodanya di Kansai International Airport. Ada sesuatu yang khas dari KIX pada siang menjelang sore: udara laut yang dingin, cahaya yang lembut, dan perasaan “akhirnya sampai” yang sulit ditolak.

Di Terminal 1, kami segera dihadapkan pada pilihan klasik setiap traveler menuju Osaka:

JR Haruka atau Nankai Line.

Karena tujuan kami adalah apartemen di kawasan Yodogawa-ku, kami memilih jalur yang paling masuk akal—dan paling bersahabat dengan kantong: Nankai Airport Express ke Namba.

Ada dua pilihan kereta:

• Limited Express (kursi reservasi, ¥1.380)

• Reguler Airport Express (tanpa reservasi, ¥980)

Kami memilih yang reguler. Hemat, cepat, dan cukup nyaman untuk perjalanan hari pertama.


Osaka dari Jendela Kereta

Begitu kereta bergerak, pemandangan laut langsung memenuhi jendela kami. Osaka perlahan muncul dari horison, bukan dengan gegap-gempita, melainkan lewat kilau lampu, gedung-gedung yang mulai rapat, dan laju kota yang terasa semakin cepat. Nama-nama stasiun muncul seperti irama sebuah lagu perjalanan:

Kansai Airport → Rinku Town → Izumisano → Kishiwada → Sakai → Tengachaya → Shin-Imamiya → Namba

Di antara Sakai dan Tengachaya, langit berubah drastis. Jingga memudar menjadi hitam, lampu kota menyala satu per satu. Osaka menyambut kami seperti seseorang yang membuka pintu perlahan, mengundang tanpa banyak kata.

Ketika pengumuman berbunyi:

“Next station… Namba.”

kami tahu sesi pertama petualangan ini baru dimulai.


Mengejar Jalur Merah: Midosuji Line

Namba sore itu ramai dan hidup—seperti pusat gravitasi Osaka yang tak pernah tidur. Dari sini kami mencari jalur Osaka Metro Midosuji Line, si garis merah yang legendaris.

Satu hal yang selalu membuat saya kagum:

di Jepang, bahkan lantai pun memberi petunjuk.

Garis merah di bawah kaki menuntun kami turun ke mesin tiket. Meski sudah punya Pasmo, hari pertama ini saya memilih membeli One-Day Pass ¥620—karena malamnya kami masih akan kembali ke Dotonburi.

Kereta datang hanya dua menit kemudian. Hening, bersih, dan presisi seperti yang Anda harapkan dari Osaka.

Perjalanan menuju Nishinakajima-Minamigata terasa seperti naik perlahan dari pusat keramaian menuju area hunian yang lebih tenang. Nama-nama stasiun melewati layar seperti babak-babak pendek:

Namba – Shinsaibashi – Hommachi – Yodoyabashi – Umeda – Nakatsu – Nishinakajima-Minamigata

Di sinilah saya akhirnya paham kenapa namanya panjang sekali.

“Nishi” berarti barat,

“Naka” berarti tengah,

“Jima” berarti pulau,

dan “Minami” berarti selatan.

Komplit. Panjang. Tapi setelah tahu artinya, entah kenapa jadi lebih mudah dihafal.

Begitu keluar dari Exit 1, Yoshinoya langsung menyambut kami. Hangat, cepat, dan tepat sasaran untuk perut yang sudah berontak sejak sore.


Drama Taksi Mini & Jalan Kaki Anak-Anak

Tepat di seberang jalan, sebuah taksi kosong menunggu. Awalnya kami ingin naik berempat, tapi koper mengalahkan impian. Jadilah saya dan istri naik taksi, sementara dua anak memilih berjalan kaki ke apartemen—tokoh-tokoh kecil yang tangguh.

Kami hanya perlu menunjukkan alamat lengkap:

3-chōme-2-6 Kikawahigashi

di layar ponsel. Sang sopir mengangguk cepat, lalu membawa kami melewati jalan-jalan kecil Yodogawa. Pemandangan apartemen rendah dan toko-toko kecil membuat perjalanan singkat itu terasa seperti sneak peek kehidupan lokal.

Tarifnya?

500 yen.

Di Osaka, itu semacam jackpot.


Kode Rahasia di Balik Kotak Kunci

Airbnb kami memakai sistem self check-in yang sangat futuristik:

kunci disimpan di key locker yang menempel di area mailbox. Kami cukup memasukkan kode rahasia yang dikirim melalui email, dan “klik”—kunci keluar seperti hadiah kecil.

Apartemen di lantai 6 itu tidak mewah, tapi modern dan efisien. Fitur favorit kami adalah video intercom yang memungkinkan kami membuka pintu lobi hanya dengan menekan tombol “open” dari dalam kamar.

Setelah mandi dan istirahat sebentar, saya dan kedua anak kembali turun untuk menikmati malam Dotonburi—karena siapa pun yang datang ke Osaka rasanya wajib memberi salam pada neon raksasa Glico.


Taksi Online Tidak Selalu Teman Dompet

Beberapa hari berikutnya, kami menemukan fakta menarik:

jalan di depan apartemen ternyata jarang dilewati taksi konvensional kosong.

Setiap kali ingin berangkat cepat, kami akhirnya mengandalkan taksi melalui aplikasi. Dan di sinilah kami belajar:

Taksi online di Jepang bukan seperti di negara lain.

Aplikasi sebenarnya hanya memesan taksi resmi, sehingga ada biaya tambahan pick-up fee. Tarif pendek yang biasanya sekitar 500–700 yen bisa melonjak menjadi 1.200 yen.

Mahal, ya.

Tapi ketika kita harus ke stasiun tepat waktu, terutama dengan koper, layanan itu terasa seperti penyelamat.

Sopir-sopir taksi di Osaka selalu menyenangkan: ramah, sopan, cepat membantu koper, dan menolak tips seolah sedang membela kehormatan profesinya. Sebuah standar pelayanan yang layak dicatat.

Kami juga naik taksi menuju:

– JR Juso saat akan ke Kobe

– Shin-Osaka untuk perjalanan ke Kyoto

Koordinasi antara subway, JR, dan taksi membuat mobilitas kami di kota besar ini terasa sangat mulus.


Osaka: Kota yang Menguji Ritme Perjalanan

Osaka selalu punya ritme yang berbeda dari Tokyo. Lebih santai, lebih spontan, tapi juga lebih menantang di jalan-jalan kecilnya. Dari kereta bandara yang menyuguhkan laut, hingga subway merah yang sibuk, hingga taksi yang harganya naik turun seperti mood seseorang—semuanya menjadi bagian dari mosaik perjalanan kami.

Perjalanan ini mengajarkan hal-hal sederhana:

• bahwa One-Day Pass bisa menyelamatkan hari,

• bahwa taksi online bukan pilihan termurah tapi paling pasti,

• bahwa taksi konvensional dihentikan di jalan selalu lebih murah,

• dan bahwa keramahan orang Osaka membuat segalanya terasa lebih ringan.

Dan di balik semua itu, ada kenyamanan apartemen kecil kami di Kikawahigashi—dengan kunci rahasianya, dengan lift yang kadang lambat, dan dengan ketenangan yang membuat setiap malam terasa seperti jeda yang manis.

Osaka, seperti biasa, tidak berusaha keras untuk memikat.

Dia hanya menjadi dirinya sendiri—ramai, jujur, dan penuh kejutan kecil.

Dan justru itu yang membuat kami jatuh hati lagi.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.