NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

Pung Hung: Museum Terbuka di Jantung Hanoi

(taufik hidayat/cgwtravel.com)

Hanoi, akhirnya saya tiba kembali di kota ini—kota yang pertama kali saya kunjungi lebih dari dua puluh tahun lalu. Entah ini kunjungan ke berapa. Setelah sekitar delapan jam terbang dari Doha, pesawat Qatar Airways mendarat di Bandara No Bai. Kali ini saya memilih mencoba bus bandara nomor 86 yang kebetulan melewati kawasan Hanoi Old Quarter, tempat saya menginap. Ongkosnya pun hanya 45 ribu Dong.

Setelah check-in dan menitipkan bagasi, saya langsung berjalan santai menyusuri kawasan kota tua. Tanpa terasa, kaki ini membawa saya ke sebuah jalan yang cantik, dihiasi mural-mural penuh warna. Pung Hung Mural Street namanya.

Sepanjang jalan ini, berderet mural yang bukan sekadar indah, tetapi juga sarat makna. Mural pertama yang menarik perhatian saya adalah sebuah papan informasi besar tentang proyek Pung Hung Mural Street. Di bagian tengah tertulis dalam bahasa Vietnam:

“NGHE THUAT CHO MOT KHONG GIAN SONG TOT DEP HON”

(Seni untuk ruang hidup yang lebih baik)

Di bagian bawahnya, terdapat penjelasan dalam bahasa Inggris bahwa mural-mural ini merupakan proyek seni publik hasil kolaborasi Vietnam–Korea. Di bagian atas, terpampang logo dan nama organisasi pendukung seperti UN-HABITAT, Komite Rakyat Distrik Hoan Kiem, dan Korea Foundation.

Dengan tajuk “Seni untuk Ruang Hidup yang Lebih Baik”, mural-mural di sini menggabungkan elemen tradisional dan modern melalui kolase visual kehidupan sehari-hari: aktivitas pasar, kerajinan tangan, hingga interaksi warga kota. Nuansa nostalgia berpadu dengan harapan akan masa depan urban yang lebih ramah. Kini, kawasan ini menjadi magnet bagi pejalan kaki dan wisatawan—bahkan deretan sepeda motor yang terparkir rapi di depannya seolah menjadi bagian dari pameran.

Saya beralih ke mural berikutnya yang menggambarkan perspektif jalur kereta api di atas Jembatan Long Bien. Jembatan ini dibangun oleh arsitek Prancis Dayde & Pille pada tahun 1898–1902 dan dikenal sebagai “saksi sejarah” Vietnam—menghubungkan masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga era modern.

Mural ini menggunakan teknik trompe l’oeil yang menciptakan ilusi kedalaman, seolah-olah kita sedang mengintip dimensi lain di balik dinding batu. Bingkai logam abu-abu yang dipotong organik menyerupai lapisan peta topografi atau “lubang waktu”. Jembatan Long Bien yang tampak menua melambangkan ketangguhan rakyat Vietnam: pernah dibom berkali-kali, namun tetap berdiri. Garis-garis tegas rel dan struktur baja memberi kesan industrial yang kontras dengan dinding batu di sekitarnya.

Uniknya, tepat di sebelah mural ini terdapat papan “Kode Etik Berperilaku di Tempat Umum” yang dikeluarkan Pemerintah Kota Hanoi—sebuah pengingat bahwa ruang seni ini tetap menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga.

Saya terus berjalan dan tiba di salah satu mural paling ikonik di jalan ini, yang terasa seperti museum mini di bawah lengkungan jembatan kereta api tua. Mural tersebut menggambarkan suasana Pho Hang Ma, jalan legendaris di kawasan Kota Tua Hanoi yang terkenal dengan dekorasi festival dan mainan tradisional.

Terlihat papan hijau bertuliskan “PHO HANG MA”, kios-kios dengan topeng kertas, lampion bintang, serta mainan tradisional yang digantung rapi. Beberapa warga lokal mengenakan non la tampak sedang memilih barang. Mural ini memadukan seni mural modern dengan sejarah budaya Hanoi secara hangat dan hidup.

Di sebelahnya, sebuah mural lain menampilkan pedagang bunga yang memikul keranjang anyaman penuh bunga warna-warni dengan tongkat bambu. Figur manusia digambar realistis, sementara latar belakangnya bergaya impresionis. Kelopak bunga yang seolah berguguran menciptakan suasana lembut dan puitis—sebuah penghormatan pada kegigihan pekerja jalanan dan keindahan sederhana kehidupan sehari-hari di kota tua Vietnam.

Saya tiba di lengkungan nomor 57. Di sana, sebuah mural monokrom menggambarkan gerbang kuil atau pagoda tua dengan jembatan kecil di depannya. Pilihan hitam-putih memberi kesan nostalgia yang kuat, seolah mengajak kita melangkah ke masa lalu.

Tak jauh dari situ, mural lain menampilkan trem listrik putih-merah—alat transportasi umum Hanoi pada awal abad ke-20. Di bagian depan tertulis “Ha Dong”, salah satu rute trem paling populer saat itu. Lukisan ini menangkap dinamika kota: penumpang berdesakan, anak muda bergelantungan di pintu, wajah-wajah penuh kebersamaan.

Di sisi kanan trem, dua perempuan dengan pakaian tradisional tampak berboncengan sepeda tua. Sepeda—sebelum sepeda motor menjadi raja jalanan—adalah simbol keseharian Hanoi tempo dulu. Latar pepohonan besar menambah suasana tenang dan melankolis.

Langkah saya terhenti di depan instalasi seni yang tak kalah menarik: sebuah sepeda motor bebek klasik, mirip Honda Super Cub, dicat seluruhnya dengan warna emas kusam—termasuk ban dan mesinnya. Motor ini tampak seperti artefak berharga, bersandar pada dinding batu yang dipadukan dengan mosaik keramik.

Dua plakat informasi menjelaskan karya ini. Di kiri, karya Nguyen Tri Manh berjudul “Nu Hon (The Kiss)”, yang membahas konsep kasih sayang dalam ruang publik. Di kanan, karya Duong Manh Quyet berjudul “Kim Bang Hot Le”, yang menjelaskan bahwa sepeda motor dulu adalah simbol mimpi, kesuksesan, dan status sosial di Vietnam.

Siapa sangka, kawasan yang dulunya kusam dan terabaikan ini sejak tahun 2018 disulap oleh seniman Vietnam dan Korea Selatan menjadi galeri seni luar ruang. Bagi generasi tua, mural-mural ini adalah jembatan waktu menuju masa kecil; bagi generasi muda dan wisatawan, ini adalah pelajaran visual tentang sejarah dan identitas Hanoi yang perlahan tergerus modernisasi.

Tak terasa, hampir 45 menit saya tenggelam di “museum terbuka” ini. Perut mulai menagih haknya. Saya menyeberangi Pung Hung Street yang ramai sepeda motor.

Dan tiba-tiba… gelap.

Saat sadar, saya sudah tergeletak di jalan, dikerumuni warga.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.