NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

Semalam di Langgar, Belasan Tahun Kemudian

(taufik hidayat/cgwtravel.com)

Perjalanan kami ke rumah Yodgor, seorang Khalifa yang dan pemimpin agama sekte Ismaili di Langar, merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Malam itu, setelah menikmati makan malam di homestay sekitar pukul 20:30, kami—saya, Mas Agustinus Wibowo, Mas Kasan, Bu Mirna, Ibrahim dan Nasar—berangkat menuju kediaman Yodgor yang  berada di pinggiran desa Langar.  Perjalanan melewati jalan-jalan yang agak gelap penerangannya.

 Mas Agustinus membawa buku Garis Batas dan beberapa foto lama, hadiah yang sarat kenangan bagi Yodgor dan istrinya, Gulchera. Meskipun hanya sejenak, kunjungan ini dipenuhi dengan cerita, musik, dan kehangatan persaudaraan yang tak terlupakan.

Langar: Desa dengan Cerita Perbatasan

Langar berada di tepi Sungai Pyanj, yang menjadi batas antara Tajikistan dan Afghanistan. Sungai ini bukan hanya pembatas geografis, tetapi juga garis yang memisahkan keluarga-keluarga sejak perbatasan ditutup oleh tentara Soviet pada tahun 1938. Salah satu cerita yang diabadikan dalam buku Garis Batas adalah kisah keluarga Yodgor, yang bibinya terjebak di seberang sungai di desa Ghoz Khan, Afghanistan. Sejak itu, mereka hanya bisa saling memandang dari kejauhan, memendam kerinduan tanpa batas.

Mas Agustinus pernah mengunjungi Langar pada tahun 2006, ketika pasar internasional pertama dibuka di desa ini. Peristiwa tersebut mempertemukan kembali keluarga-keluarga yang lama terpisah, termasuk Yodgor dan sepupunya, Wali Jon. Sayangnya, harapan yang dibawa oleh pasar itu hanya bertahan sementara. Perbatasan kembali ditutup, meninggalkan kenangan yang kini hanya bisa diingat melalui foto-foto dan cerita.

Nasar, yang disebutkan dalam buku “Garis Batas” karya Mas Agustinus sebagai anak kecil di Alichur, kini telah beranjak dewasa dan turut serta dalam perjalanan ini sebagai pengemudi sekaligus pemandu utama yang paling fasih berbahasa Inggris.

Sebuah Rumah yang Kini Lebih Megah

Ketika kami tiba di rumah Yodgor, kesan pertama yang terasa adalah perubahan besar. Rumah yang dulu sederhana kini telah menjadi homestay yang megah dan nyaman.

Kedatangan kami disambut hangat oleh Yodgor dan istrinya, Gulchera. Mereka tampak terharu saat Mas Agustinus menyerahkan buku “Garis Batas” beserta foto-foto kenangan dari tahun 2006, ketika ia pertama kali mengunjungi tempat ini. Percakapan pun berlangsung dalam bahasa Farsi dan Tajik, membawa kami kembali ke masa lalu yang penuh kenangan. Tampak Yodgor, sang khalifah dan juga istrinya sesekali tertawa lepas ketika melihat foto-foto mereka.

Umumnya pada awalnya Yodgor tampak sempat lupa siapa Mas Agus dan baru teringat ketika nama Agustin disebut-sebut. Lelaki setengah baya dengan penampilan sederhana dan kostum berbahan  jin warna biru dan topi khas Pamir ini tetap memancarkan aura yang berwibawa. Walau hanya mengerti sepatah dua patah kata yang dikatakan mereka, saya masih dapat mengikuti alur cerita yang dimainkan. Sebuah reuni teman lama yang penuh emosi dan kenangan

Rumah Yodgor kini telah berubah menjadi homestay yang cukup besar, berbeda dengan kondisi pada tahun 2006 yang digambarkan dalam buku Garis Batas ketika kawasan GBAO dan Tajikistan masih menghadapi kesulitan ekonomi , termasuk kekurangan makanan dan bahan bakar. Mas Agustinus menceritakan bahwa saat itu, ketika hendak pergi ke Murghab dan Alichur, ia bahkan sempat dititipi makanan untuk keluarga yang tinggal di sana karena keterbatasan makanan.

Secara tidak langsung saya seakan mahcub bahwa Yodgor mengatakan bahwa Langar sekarang sudah banyak berubah jika dibandingkan denagh masa-masa sulit di tahun-tahun awal setelah perang sipil Tajikistan. Dian juga menyatakan  rasa syukur bahwa desa ini berkembang pesat, terutama dengan banyaknya wisatawan di sepanjang Pamir Highway yang membawa perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat setempat. Akan tetapi kenangan masa lalu tetap menjadi bagian dari sejarah kehidupan yang tidak mudah dilupakan.

Kami kemudian diajak masuk ke ruang tengah yang dihiasi dengan simbol-simbol yang mencerminkan ajaran Ismaili. Ruang tengah rumah khas Pamir ini memiliki  lima pilar yang mencerminkan Nabi Muhammad, Ali, Bibi Fatimah, Hasan dan Husein. 

Sementara foto Aga Khan sebagai imam ke 49 juga hadir menghiasi ruang di rumah ini bagaikan kehadiran foto presiden di kantor -kantor di tanah air.

Malam itu, Yodgor mempersembahkan permainan musik tradisional yang memukau. Ia memainkan alat musik petik mirip gitar kecil dan bernyanyi merdu. Mendengar liriknya, walau hanya mengerti satu dua kata, saya langsung membayangkan keindahan lembah Wakhan dan semangat hidup penduduknya.  Putrinya turut serta memainkan sejenis rebana yang menambah kehangatan suasana dengan alunan melodi yang indah.

Kami larut dalam harmoni musik dan cerita, merasakan kedekatan yang melampaui batas bahasa dan budaya.  Semua terdiam, hening menikmati harmoni musik yang menyentuh hati. Mas Agus, yang selama ini merekam momen-momen berharga dalam perjalanan hidupnya, terlihat tenggelam dalam alunan melodi. Momen ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sebuah pengingat akan kekuatan budaya dan seni dalam menyatukan manusia.

Selesai bermain musik yang disebut konser ini, mas Agus. Nasar, Yodgor dan istrinya terlibat dalam percakapan yang penuh nostalgia dalam berbagai bahasa dan sesekali Nasar ikut membantu menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Kunjungan Singkat yang Penuh Makna

Sekitar pukul 22.00, kami berpamitan. Waktu yang singkat terasa begitu padat dengan cerita dan kenangan. Sebelum meninggalkan rumah, kami menyempatkan diri untuk mengabadikan momen bersama dalam beberapa foto. Kebersamaan singkat namun bermakna ini meninggalkan kesan mendalam bagi kami semua.

Sekitar lima belas menit kemudian , kami tiba kembali di  homestay dengan hati yang penuh rasa syukur atas pengalaman berharga ini.

Langar, Simbol Harapan dan Persaudaraan

Langar adalah tempat yang penuh dengan makna. Desa ini mengajarkan kita bahwa meskipun ada batas fisik yang memisahkan, hubungan antarmanusia tetap bisa bertahan melalui kenangan, cerita, dan kerinduan. Rumah Yodgor, yang kini menjadi homestay, adalah simbol dari bagaimana sebuah tempat bisa menjadi jembatan bagi mereka yang mencari kedamaian, persaudaraan, dan cerita dari masa lalu.

Perjalanan ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga memberikan pemahaman lebih dalam tentang kekayaan budaya dan spiritual komunitas Ismaili di Langar.

Kenangan ini akan selalu terpatri dalam ingatan kami, mengingatkan bahwa di balik setiap perjalanan, terdapat kisah dan pelajaran yang berharga.

Sekali lagi kita simak Hidup adalah sebuah perjalanan, nikmati saja .

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.