NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

Di Antara Sumur Gumuling dan Pohon Mangga di Museum Pleret

(Taufik Hidayat/cgwtravel.com)

Setelah berkendara sekitar tiga puluh menit dari kawasan Alun-alun Kidul, kami akhirnya tiba di Pleret. Tujuan utama siang itu adalah Museum Purbakala Pleret, sebuah tempat yang sejak lama ingin saya kunjungi, namun entah mengapa selalu tertunda.

Sesampainya di depan museum, sempat muncul rasa ragu. Tidak tampak area parkir seperti museum pada umumnya. Ternyata kendaraan harus diarahkan ke pintu samping yang terhubung dengan area perkantoran. Begitu masuk, keraguan itu segera tergantikan rasa lega. Museum ini gratis. Kami hanya diminta mengisi buku tamu. Siang itu suasana sangat lengang, nyaris tanpa pengunjung. Hanya ada kami dan seorang penjaga museum yang setia menemani keheningan.

Ruangan pertama yang kami masuki langsung menyambut dengan udara sejuk, kontras dengan panas Pleret di luar. Di ruangan ini tersimpan berbagai artefak masa lampau: fragmen candi berupa gana—makhluk kerdil prajurit Dewa Siwa—kebenan sebagai struktur puncak pagar candi, antefik, serta jaladwara, saluran air pada bangunan suci. Yang membuat ruangan ini terasa hidup adalah kehadiran pameran audiovisual berupa light spot, yang menjelaskan asal-usul benda-benda tersebut dari era Pleret sebelum Islam. Baru ketika melangkah keluar saya mengetahui nama ruang ini: Ruang Gunung Kelir.

Dari sana kami menuju halaman museum. Beberapa gazebo berdiri anggun, beratap limasan bertumpang dengan genteng tanah liat merah kecokelatan. Ujung-ujung atapnya dihiasi ornamen khas Jawa yang sederhana namun berwibawa. Tiang-tiang berwarna terang menopang ruang terbuka tanpa dinding, membuat suasananya lapang dan teduh.

Di depan salah satu gazebo, sebuah batu lumpang besar diletakkan di atas dudukan. Cobek batu ini seolah menghadirkan kembali denyut kehidupan domestik masa lalu—tempat menumbuk, mengolah, bekerja. Bukan benda megah, tetapi justru di situlah kekuatannya sebagai penanda keseharian yang kini menjadi saksi sejarah.

Kawasan ini rupanya merupakan eks kedaton atau istana Kerajaan Mataram pada masa Sultan Agung hingga Amangkurat I. Penandanya adalah Sumur Gumuling. Yang tersisa kini berupa struktur bundar dari bata merah, dengan penutup bulat berpegangan besi di bagian atas. Bentuknya khas sumur tua, diletakkan di bawah sebuah cungkup terbuka. Di dekatnya terpasang prasasti yang menjelaskan bahwa lokasi ini adalah Situs Cagar Budaya Kedaton, Sektor Sumur Gumuling, bagian dari reruntuhan Keraton Pleret, pusat Kerajaan Mataram Islam pada masa pemerintahan Amangkurat I (1646–1677).

Sumur ini bukan sekadar sumber air utama kompleks keraton. Masyarakat setempat mempercayainya memiliki hubungan spiritual dengan Laut Selatan dan kerap digunakan untuk ritual penyucian pusaka serta pengobatan. Seketika muncul pertanyaan di kepala saya: adakah kaitannya dengan Sumur Gumuling di Taman Sari Yogyakarta? Sebuah pertanyaan yang dibiarkan menggantung, seperti banyak misteri sejarah Jawa lainnya.

Langkah kaki kemudian membawa saya meninggalkan keheningan Sumur Gumuling, menyusuri lorong waktu menuju halaman lain yang berbatasan langsung dengan jalan raya. Di sanalah sebenarnya pintu masuk utama museum berada. Sebuah gerbang putih berdiri kokoh, menjadi batas simbolik antara hiruk-pikuk masa kini dan keagungan masa lalu. Tulisan kuning mencolok bertuliskan “Museum Pleret” seolah mengundang siapa pun untuk singgah dan menyelami jejak sejarah yang tertinggal di tanah ini.

Sinar matahari siang menembus sela dedaunan pohon rindang, membentuk bayangan di jalan setapak menuju pintu masuk. Dari balik pagar besi yang terbuka, terlihat artefak-artefak batu tersusun rapi di atas hamparan rumput hijau, seakan berbisik tentang abad ke-17 yang tak sepenuhnya pergi.

Kembali ke halaman utama, jalur pejalan kaki berpaving block tertata rapi. Sebuah tugu ikonik bertuliskan nama museum lengkap dengan logonya berdiri di tengah area. Langit biru berawan menaungi suasana yang terasa cerah dan bersahabat. Di sudut halaman, sebuah pohon mangga berbuah lebat mencuri perhatian. Buah-buahnya tampak ranum, menggoda untuk dipetik, meski terlalu tinggi untuk dijangkau.

Kami kemudian memasuki Ruang Kerto. Di sinilah artefak-artefak dari era Kerajaan Mataram Islam dipamerkan, lengkap dengan linimasa sejarah dari tahun 1613, ketika Sultan Agung mendirikan Mataram Islam, hingga wafatnya Amangkurat I pada 1667 dan perpindahan keraton ke Kartasura pada 1680. Sebuah patung Sultan Agung berdiri di dalam kotak kaca. Di bawahnya tertera pesan-pesan bijak sang raja.

Salah satu kutipan berbunyi, “Swadana Maharjeng Tursita,” yang dimaknai sebagai pesan bahwa seorang pemimpin harus berilmu, memiliki intelektual tinggi, dan pandai menjalin komunikasi. Di sisi lain tertulis, “Mengasah ketajaman akal budi membasuh malapetaka,” sebuah ajakan reflektif yang terasa relevan lintas zaman. Ada pula ajaran “Rukti Setya Garba Rukmi,” yang menekankan peran pemimpin dalam menghimpun potensi demi kemakmuran dan keluhuran martabat bangsa—prinsip yang digunakan Sultan Agung untuk melegitimasi kekuasaannya, bukan hanya di Jawa, tetapi di seluruh Nusantara.

Di ruang yang sama dipamerkan koleksi umpak, artefak penting dari masa Keraton Kerta dan Keraton Pleret. Tak jauh dari situ, tersaji koleksi perangko bergambar para sultan Nusantara, termasuk Sultan Agung. Yang tak kalah menarik adalah display tentang Sastra Gendhing. Serat Sastra Gendhing karya Sultan Agung bukan sekadar teks sastra, melainkan panduan hidup spiritual yang membahas hubungan manusia dengan Tuhan, asal-usul dan tujuan hidup, budi pekerti luhur, serta pentingnya keseimbangan lahir dan batin.

Museum ini juga menampilkan replika tumpeng beserta penjelasan filosofinya. Tumpeng digambarkan sebagai simbol perjalanan hidup manusia yang lurus menuju Tuhan. Warna kuning melambangkan kemakmuran, putih melambangkan kesucian, dan tujuh macam lauk sebagai simbol permohonan pitulungan atau pertolongan.

Setelah puas menjelajahi isi museum, kami kembali ke halaman. Pohon mangga itu masih berdiri dengan buah-buahnya yang ranum. Dengan sedikit bercanda, kami meminta izin kepada mbak penjaga museum untuk memetik satu. Ia tersenyum manis, lalu menggeleng pelan. Tidak diizinkan.

Waktu hampir menunjukkan pukul dua belas siang. Perut mulai memberi isyarat. Saatnya meninggalkan museum dan mencari makan siang.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.