NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

Di Ujung Langit dan Tepian Laut: Catatan Senja di Tianya Haijiao

(Taufik Hidayat/cgwtravel.com)

Hari sudah menjelang senja ketika bus kami tiba di tujuan selanjutnya: Tianya Haijiao, yang oleh pemandu wisata disebut sebagai pantai paling romantis di Hainan—bahkan di seluruh Tiongkok.

“Kalau kita bergandengan tangan dengan pasangan di sini, dijamin hubungan akan langgeng sampai kakek-nenek,” ujar Angela di dalam bus dengan nada setengah menggoda.

Tak jauh dari tempat parkir bus, tampak area berfoto dengan tulisan besar “Aku Cinta Tianya”, ditulis dalam kombinasi aksara Mandarin Wo, simbol hati, dan kata Tianya.

Gerbang masuknya juga menarik perhatian: di atasnya tertera tulisan besar dalam huruf Sirilik, “Group Check-In”—sebuah peninggalan dari era ketika wisatawan Rusia menjadi pengunjung utama Hainan. Tulisan aslinya dalam bahasa Rusia berbunyi “Proverky Bilyetov Dliya Grupiy.”

Saya sempat melirik ke loket tiket (kassa). Harga tiket masuknya 68 yuan per orang. Tak terlalu murah, tapi suasananya memang dibuat istimewa. Kami diberi waktu satu jam untuk menjelajah, padahal kawasan ini bisa dengan mudah menyita dua atau tiga jam bila ingin menikmatinya sepenuh hati.

Menuju Pantai

Saya memilih berjalan kaki. Memang tersedia mobil listrik berbayar seharga 60 yuan, tapi langkah kaki terasa lebih jujur untuk menikmati udara laut dan detak sore.

Di tengah perjalanan, tampak sebuah monumen berbentuk dua hati besar dari baja tahan karat—tingginya 7,7 meter—bernama Heart to Heart. Kolam di bawahnya pun berbentuk hati.

Angka 7,7 ternyata bukan kebetulan: ia merujuk pada tanggal 7 bulan 7 dalam penanggalan Imlek, hari yang dianggap sebagai Festival Qixi—valentine versi Tiongkok—yang menceritakan kisah cinta antara Niu Lang dan Zhinu, dua kekasih yang hanya dapat bertemu setahun sekali di jembatan bintang.

Kebetulan pula, bulan kunjungan kami jatuh di bulan tujuh penanggalan Imlek. Mungkin itu sebabnya, tempat ini dipenuhi pasangan muda yang bergandengan tangan dengan penuh percaya diri.

Patung dan Legenda

Tak jauh dari situ, berdiri patung seorang lelaki berjubah panjang, berambut gondrong dan berjenggot lebat, duduk di atas singgasana batu. Wajahnya berwibawa, nyaris seperti dewa atau menteri bijak dalam kisah klasik Tiongkok. Sayang, tak ada keterangan yang cukup jelas—atau mungkin saya yang terburu-buru untuk membacanya.

Menuju ke bibir pantai, saya melewati batu-batu besar yang tampak dipahat oleh alam dan manusia. Pemandangannya seketika mengingatkan saya pada pantai-pantai granit di Belitung. Namun harus diakui, pantai Tianya Haijiao terasa lebih artifisial, dengan nuansa komersial yang kuat.

Harga tiket masuk, ongkos mobil listrik, bahkan pilihan naik helikopter untuk melihat pemandangan dari udara—semuanya menandakan bahwa romantika di sini sudah diberi harga.

Namun di balik itu, kisah yang melingkupi pantai ini tetap menarik.

Dikisahkan ada sepasang kekasih yang cintanya tak direstui. Mereka melarikan diri hingga ke tepi laut ini. Saat dikejar orang suruhan keluarga, badai besar datang, dan keduanya berubah menjadi batu karang. Para pengejar pun dikutuk menjadi batu-batu kecil di sekitarnya.

Maka dari sanalah muncul dua batu karang besar bertuliskan “Tianya” (天涯 – ujung langit) dan “Haijiao” (海角 – tepian laut).

Ujung Dunia

Nama Tianya Haijiao sendiri bisa diterjemahkan sebagai “Ujung Langit dan Tepian Laut”, atau lebih puitisnya: The End of the World.

Julukan itu berasal dari masa lalu, ketika Pulau Hainan menjadi tempat pembuangan pejabat atau bangsawan yang tidak disukai kaisar. Letaknya di selatan jauh daratan Tiongkok membuatnya dijuluki sebagai ujung dunia—tempat di mana langit dan laut seolah bertemu tanpa batas.

Di sisi lain pantai, ada pula batu besar bertuliskan Nan Tian Yi Zhu (南天一柱), yang berarti “Satu Pilar di Langit Selatan.” Legenda lokal menyebut batu ini sebagai penanda doa para nelayan agar dilindungi dewa laut dari badai.

Menyusuri Monumen

Saya kembali ke arah daratan dan menemukan beberapa monumen lain: patung tentara berkuda yang gagah, patung dewa-dewa laut, dan yang paling menarik—sebuah monumen astronomi bernama Tianya Haijiao Asteroid, dipahat oleh seorang profesor dari Universitas Xiamen.

Monumen ini menggambarkan alat observasi bintang kuno berbentuk cincin berlapis, dengan mutiara di tengahnya. Simbolnya jelas: Tianya Haijiao dianggap sebagai pusat harmoni antara langit, laut, dan manusia.

Ketika Senja Datang

Mentari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga di langit. Ombak kecil berkejaran di bibir pantai, dan bayangan batu bertuliskan Tianya mulai memanjang di pasir.

Saya berhenti sejenak, menatap laut yang perlahan gelap. Entah mengapa, saya merasa tempat ini bukan sekadar destinasi wisata. Ia lebih mirip penanda tentang batas—antara cinta dan kehilangan, antara daratan dan laut, antara pergi dan pulang.

Dan ketika bus kembali menjemput kami menuju kota Sanya, saya teringat kalimat dalam brosur kecil yang saya baca tadi siang:

“Siapa pun yang datang ke Ujung Dunia, sebenarnya sedang mencari awal yang baru.”

Mungkin benar. Sebab di setiap ujung langit, selalu ada tepi laut yang menunggu kita untuk memulai lagi.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.