NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

Eksplorasi Makau: Dari Ponte 16 ke Gerbang Perbatasan Historis

(Taufik Hidayat/cgwtravel.com)

Setelah makan siang dan menunaikan salat di Loulan Islamic Restaurant di Rua de Cinco Outubre, kami berencana melanjutkan perjalanan ke Pulau Taipa untuk melihat kawasan Makau yang modern, termasuk kasino-kasino megahnya.

Menurut informasi dari Mbak penjaga restoran, tidak jauh di ujung jalan, kami bisa menyeberangi jembatan dan belok kanan untuk bertemu Ponte 16, sebuah kompleks kasino yang juga menaungi Hotel Sofitel. Dari sana, kami bisa melanjutkan ke kasino-kasino lain di Pulau Taipa. Memang, salah satu keunggulan Makau adalah tersedianya layanan bus shuttle milik kasino secara gratis, yang memudahkan kita berpindah ke mana saja sesuai tujuan.

Jejak Sejarah di Ponte 16

Kami berjalan santai dan menyeberangi jembatan penyeberangan yang dilengkapi lift untuk naik, meskipun di seberang jalan hanya tersedia tangga. Kami pun tiba di Ponte 16 yang terlihat megah dan gagah.

Menariknya, di depan kasino modern ini terdapat sisa bangunan tua dengan menara jam bertuliskan “1948, Ponte No. 16.” Ini seolah menjadi pengingat akan lapisan sejarah yang berasal dari abad lampau. Tidak jauh dari sana, kami melihat prasasti nama jalan dalam Bahasa Portugis, Rua do Visconde Paco de Arcos, dengan aksara Hanzi di atasnya.

Di halaman depan Ponte 16, dipamerkan sebuah mobil unik mirip VW Kombi berukuran besar, dicat oranye dan putih, dengan tulisan OLA di dindingnya. Di sebelahnya, ada boneka kucing raksasa yang sedang duduk. [VW dan kucing.

Perjalanan Gratis ke Portas do Cerco

Tepat di depan hotel kasino ini, sebuah bus warna ungu tua sedang menaikkan penumpang. Ketika kami bertanya, ternyata tujuannya adalah Portas de Cerco atau Barrier Gate, yang merupakan pintu perbatasan antara Makau dan daratan Tiongkok (Zhuhai). Petugas, yang kelihatannya pekerja migran asal Asia Selatan, menambahkan bahwa dari perbatasan ini, banyak bus kasino yang menuju berbagai tempat di Pulau Taipa.

Kami segera antre dan naik bus. Perjalanan gratis, nyaman, dan sejuk berkat pendingin udara. Selama ini, saya hanya sering membaca tulisan Portas de Cerco di petunjuk jalan atau bus, tapi belum pernah ke sana. Karena besok memang berencana menyeberang ke Zhuhai menggunakan fasilitas Visa on Arrival, hari ini menjadi kesempatan bagus untuk mengintip suasana perbatasan ini.

Status Makau sebagai SAR (Special Administrative Region) membuatnya secara administratif masih independen dari Tiongkok hingga tahun 2049, meskipun kedaulatan sudah dikembalikan oleh Portugal pada 1999.

Mengintip Check Point Charlie dari Timur Jauh

Bus berjalan di tengah padatnya lalu lintas Makau. Walau di peta terlihat dekat, perjalanan dari kasino ke perbatasan memakan waktu sekitar 15 hingga 20 menit. Nama-nama jalan yang khas Makau tertulis baik dalam aksara Hanzi maupun Bahasa Portugis.

Ketika mendekati terminal bus di perbatasan, suasananya sangat ramai. Orang-orang bergegas menyeberang ke Zhuhai hanya dengan berjalan kaki. Di sini, berdiri sebuah pos perbatasan yang sangat megah dan besar, arsitekturnya mirip bandara. Pos perbatasan bernama Gong Bei Kou An ini tidak kalah megahnya dengan perbatasan yang kami kunjungi pagi tadi setelah melewati Jembatan Hong Kong-Zhuhai-Makau. [Portas do Cerco. (Dokumentasi Pribadi)]

Setelah turun dari bus, kami harus melewati kerumunan orang yang menuju Zhuhai untuk mencapai deretan bus shuttle kasino. Ada bus Venetian Macau, Galaxy, Parisian, Hotel Lisboa, Wynn, dan MGM. Kami tinggal pilih sesuai tujuan.

Tidak jauh dari terminal bus, perhatian kami tertuju pada sebuah monumen: pintu gerbang tua yang dikelilingi pagar. Inilah Portas de Cerco atau Barrier Gate yang dibangun pada pertengahan abad XIX oleh Portugis. Pintu gerbang berwarna oranye kekuningan ini terlihat anggun dan sangat kontras dengan gedung perbatasan modern di belakangnya.

Di pintu berbentuk lengkungan sederhana itu, ada air mancur. Di kedua sisi pintu terdapat prasasti dan tulisan dalam Bahasa Portugis: “A patria honrai, que a patria vos contempla”—yang berarti kira-kira “Hormatilah tanah airmu, agar tanah air menjagamu.” Prasasti lain mencatat tanggal 22 Agustus 1849 dan 25 Agustus 1849, serta 31 Oktober 1970.

Dulunya, melalui pintu klasik inilah ratusan ribu orang melewati perbatasan. Peristiwa penting seperti insiden Passaleou pada Agustus 1849, yang memperkukuh posisi Portugal di Makau, dicatat di sini.

Bahkan, pada dekade 1950-an hingga 1960-an, banyak orang Tiongkok yang ingin menyeberang ke Makau dan Hong Kong. Karena ketegangan di masa itu, Portas de Cerco terkenal dengan julukan Check Point Charlie dari Timur Jauh.

Tentu saja, keadaannya sudah jauh berubah. Seiring berkembangnya ekonomi Tiongkok dan Makau, penduduk dan jutaan turis bebas melewati perbatasan modern ini, sebagaimana yang akan kami lakukan esok hari.

Setelah sekitar setengah jam berjalan-jalan di area bersejarah ini, kami kembali naik bus shuttle kasino, kali ini menuju dekat hotel kami, masih di Semenanjung Makau.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.