Setelah sarapan pagi di hotel, dengan tiket Yufuin no Mori ke Beppu dan Aso Boy ke Aso sudah di tangan, kami mendapati diri masih memiliki setengah hari yang longgar. Danau Kirin sudah kami datangi, onsen sudah kami rasakan. Tinggal satu ikon Yufuin yang rasanya sayang dilewatkan—Yufuin Floral Village, yang semalam sempat kami intip, tapi sudah keburu tutup dan sunyi.
Udara Yufuin pagi itu masih sejuk. Stasiun belum terlalu ramai. Di taxi stand, kebetulan ada satu taksi menunggu. Kami naik, menyebut tujuan. Sopir setengah baya menyahut ramah. Tak sampai sepuluh menit, argo berhenti di angka seribu yen lebih sedikit—harga yang terasa wajar untuk menghemat tenaga dan waktu di pagi yang singkat.
Begitu turun, suasana langsung berubah. Yufuin Floral Village bukan tempat megah, bukan pula desa tua sungguhan. Ia lebih seperti halaman dongeng—suasana pedesaan bernuansa Eropa yang tiba-tiba muncul di Jepang. Bangunan kecil berjajar dengan atap runcing, dinding bata dan kayu, warna-warna lembut—desa Eropa yang disederhanakan, dipadatkan, dan dibuat ramah kamera. Seperti dunia boneka.
Langkah pertama membawa saya ke lorong sempit dengan toko-toko mungil. Etalase di kiri-kanan penuh boneka karakter Studio Ghibli, kucing, burung hantu, hingga pernak-pernik yang “imut secara sadar”. Tak ada yang pura-pura otentik—dan justru di situlah pesonanya. Ia jujur sebagai tempat rekreasi visual.
Gerai pertama yang menyambut menjual Kani Kamaboko berukuran besar—stik kepiting imitasi. Di papan menu tertulis Huge Crab Stick atau 巨大蟹カマ (Kyodai Kani Kama), harga 400 yen per potong. Stik kepiting ditata rapi di atas nampan kayu berbentuk perahu—cara penyajian yang memberi kesan segar sekaligus fotogenik.
Tak lama kemudian saya berhenti di depan peta kawasan. Peta itu menempel tenang di dinding batu kuning tua, separuhnya diselimuti daun ivy hijau yang merambat, seolah alam sengaja ikut membingkai informasi. Judulnya jelas: Yufuin Floral Village Map, dengan keterangan kecil Yunotsubo Street—penanda bahwa kami berada di jalur wisata paling hidup di Yufuin.
Dari peta itu, dunia mini ini tampak seperti negeri dongeng yang dipadatkan. Sungai kecil berwarna biru mengalir di tengah, dengan jembatan mungil dan pepohonan bulat seperti permen kapas. Ikon burung hantu, kelinci, domba, hingga kucing Cheshire tersebar di berbagai sudut. Alice in Wonderland, Heidi, sampai Totoro seolah ikut “tinggal” di sini.
Di sisi kiri peta, deretan toko: Totoro Shop, Kiki’s Bakery, Princess Shop, Owl’s Forest, hingga The Rabbit. Di kanan, Heidi Shop dengan ikon kambing kecil yang polos. Dunia dongeng ini juga tak lupa urusan perut: Matcha Tapioca dan Kinsho Croquette tercantum rapi.
Saya melangkah ke toko bertema Studio Ghibli, terinspirasi Kiki’s Delivery Service. Papan oval bertuliskan Kiki’s Bakery menggantung di depan. Di etalase, Jiji, kucing hitam ikonik, duduk di dalam sangkar burung. Di belakangnya tampak tas belanja bermotif Totoro—isyarat bahwa ini memang rumah kecil bagi para penggemar Ghibli.
Tak jauh, papan penunjuk bertuliskan Owl’s Forest Zoo. Saya menuju ke sana. Dengan tiket 900 yen, pengunjung bisa berinteraksi—mengelus, berfoto—dengan berbagai jenis burung hantu: dari snowy owl hingga yang bertanduk, juga burung hantu kecil. Ada pula marmot. Sebuah kebun binatang mini yang intim, khas Jepang.
Perjalanan berlanjut ke toko suvenir unik. Di halamannya berdiri patung karakter seperti Moomin dan Tom and Jerry. Tanaman merambat dan pepohonan hijau memberi kesan asri, nyaris magis. Ikon lain yang mencuri perhatian adalah Mini Cooper dengan plat Union Jack dan tulisan di atap: Space for MINI Parking Only. Catnya sedikit pudar—antik yang disengaja.
Tak jauh dari situ ada Yufuin Earth Market, toko pernak-pernik bertema alam dan batu kristal. Barulah kemudian kami tiba di gerbang resmi Yufuin Floral Village—lengkungan batu dengan atap kayu besar, mengingatkan pada dunia Harry Potter. Di dekatnya ada toilet kecil. Sayang, terkunci. Tertulis: hanya pelanggan yang telah berbelanja dan menunjukkan struk yang boleh menggunakan toilet. Agak sadis, pikir saya—mengingatkan pada toilet McDonald’s di Kota Meksiko yang juga meminta bukti belanja.
Kami lalu sampai di Cat Café bertema Alice in Wonderland: Cheshire Cat’s Forest (Cheshianeko no Mori). Pintu dihiasi gambar kucing Bengali—memang kafe ini mengkhususkan diri pada jenis itu. Di dalam, dekorasi hutan mengundang pengunjung untuk berlama-lama.
Sebuah papan informasi merangkum fasilitas:
Gourmet (es krim The Queen’s Soft, roti Kiki’s Bakery, kafe),
Shopping (pernak-pernik Peter Rabbit, jam tangan, aksesori),
Amusement (Owl’s Forest, Spa Floral/foot bath),
hingga Photo Studio dengan kostum penyihir dan burung hantu. Di sudut bawah, brosur Grand Verde Resort—glamping di kawasan ini.
Kami merasa kembali menjadi anak-anak saat tiba di area Heidi, Girl of the Alps. Papan karakter Heidi, Peter, sang Kakek, dan anjing Joseph berdiri ramah. Di tengah area, kolam kecil memantulkan langit Yufuin yang pucat. Kafe membuka pintu; aroma kopi bercampur udara pegunungan. Waktu melambat—meski jam di ponsel terus mendekati tengah hari.
Yang menarik dari Floral Village bukan soal “apa yang harus dilihat”, melainkan bagaimana orang melihat. Ada pasangan bergantian memotret, wisatawan solo duduk memandangi detail jendela, dan mereka yang puas setelah satu putaran singkat. Saya berjalan tanpa target. Tidak semua toko dimasuki. Tidak semua sudut difoto. Ada yang cukup disimpan di kepala.
Kami lalu berhenti di depan Orgel no Mori—toko kotak musik dan kerajinan kaca—dengan pondok kayu khas pegunungan. Di depannya terparkir Subaru 360 kuning, mobil mikro ikonik Jepang, sering dijuluki “kepik”.
Tak jauh, Yufuin Showakan (Museum Zaman Showa) menyapa. Di halaman, sebuah mobil klasik hitam-marun—edisi terbatas Toyota tahun 2000—dan Daihatsu Midget roda tiga berwarna hijau pucat. Mobil inilah yang dahulu diekspor ke Indonesia dan dikenal sebagai Bemo.
Dan di situlah ingatan meloncat. Jauh-jauh ke Yufuin, saya malah berjumpa kendaraan yang dulu sering saya tumpangi di Bandung pada 1980-an. Waktu berkelok—Jepang pascaperang dan Indonesia masa kecil saya bertemu di satu halaman kecil.
Jarum jam menunjuk pukul 11. Kami berjalan ke halte bus. Di seberangnya, bangunan vending machine bertuliskan “24 Time BUS STOP” dan 自販コンビニ (Jihan Kombini). Teh, kopi, cokelat, es krim berderet rapi. Bus datang. Tak lama kami sudah kembali di stasiun.
Sebentar lagi Yufuin akan kembali menjadi Yufuin yang tenang. Floral Village tertinggal di belakang—bukan sebagai daftar tempat, melainkan sebagai kenangan yang pelan-pelan menetap.



