Hari itu ditutup dengan cara yang tak saya duga. Seharian berjalan kaki menyusuri bukit-bukit Lisboa telah membuat betis saya protes, tapi hati tetap ingin terus melangkah. Trem kuning masih sesekali naik turun bukit, menyeret roda-rodanya perlahan seolah menikmati rute yang sama selama puluhan tahun. Dari sebuah miradouro, saya duduk memandangi kota senja, menyeruput kopi hangat yang uapnya terbang bersama angin Atlantik.
Ketika langit bergeser menjadi biru tua, saya memutuskan mencari makan malam. Bukan restoran ber-menu panjang atau tempat populer di linimasa wisata, melainkan sebuah rumah makan kecil dekat stasiun Martim Moniz. Aroma daging panggang menguar dari dapurnya, menyelinap dari sela pintu kayu. Saya langsung masuk.
Saya memesan sepiring ayam bakar, nasi putih, dan kentang goreng. Ketika datang, porsinya besar, disajikan di atas piring logam masih hangat. Kulit ayamnya renyah, bagian dalamnya juicy—persis kekhawatiran saya bahwa ia akan kering langsung sirna ketika saya menggigit pertama. Kentangnya tidak seragam potongannya, justru seperti buatan ibu-ibu di rumah ketika sedang terburu-buru tapi tetap ingin memuaskan keluarga. Nasinya agak pera dan berbeda dari biasanya, tapi cukup untuk melepas rindu karbohidrat.
Tak sampai sembilan euro, sudah termasuk segelas teh hangat yang manisnya pas. Ini kemewahan kecil dalam kesederhanaan, yang kadang justru kita rindukan.
Sambil makan pelan-pelan, saya melihat keluar jendela. Martim Moniz tidak pernah benar-benar tidur. Orang berlalu-lalang, trem sesekali berdenting, dan entah dari mana terdengar seseorang bernyanyi lirih. Kawasan ini seperti simpang jalan, tempat berbagai kehidupan bertemu tanpa sengaja.
Setelah selesai makan, saya melangkah keluar. Trotoar batu memantulkan cahaya lampu jalan, menciptakan efek kilau yang kontemplatif. Udara lembap, tapi masih nyaman. Langkah membawa saya melewati deretan bangunan, hingga tiba-tiba saya berhenti di depan bangunan mungil yang awalnya saya kira toko tutup. Ketika mendekat, saya baru sadar: itu kapel.
Capela de Nossa Senhora da Saúde
Dinding kapel itu putih polos, empat tiang pilaster sederhana menjaganya dari depan. Di atas pintu kayu, ada jendela kecil berteralis besi. Bangunannya tak mencolok di antara hiruk pikuk kota, tapi justru karena itulah ia terasa mengundang.
Saya mendekat, membaca pelan tulisan kecil di samping pintu: Capela de Nossa Senhora da Saúde—Kapel Bunda Kesehatan. Konon, kapel ini dibangun setelah kota selamat dari wabah abad ke-16. Lisboa pernah nyaris lumpuh. Kata “Saúde”, kesehatan, terasa bukan sekadar permohonan, tapi memori luka kolektif. Kapel ini sempat hancur saat gempa dahsyat 1755, lalu dibangun kembali.
Saya berdiri diam di depannya. Tangan menyentuh pagar besi rendah yang memisahkan kapel dan jalanan. Di tengah sunyi malam itu, saya membayangkan seseorang ratusan tahun lalu berdiri di tempat yang sama, membawa doa yang mungkin juga saya bawa—tentang keselamatan, harapan, ketenangan. Saya memotret bangunannya. Hasilnya goyang, tapi entah kenapa saya membiarkannya tetap tersimpan.
Tiba-Tiba, Pelangi
Ketika hendak berbalik, sekelompok anak muda muncul dari arah taman. Mereka penuh warna: rambut ungu, jaket bermotif kartun, kaos bergambar pelangi. Seorang membawa payung warna-warni yang tetap terbuka meski langit tak hujan.
Ada ketakutan refleks. Saya dibesarkan dalam lingkungan yang mengekang perbedaan; segala yang “lain” sering dicurigai tanpa kesempatan.
Saya menghindar sedikit, tapi salah satu dari mereka lebih cepat mendekat. Senyumnya lebar.
“Boa noite!”
Saya terdiam sejenak. “Boa noite,” jawab saya perlahan.
“Você é turista?”
Saya mengangguk, “Mais ou menos.” Setengah jujur, setengah bercanda.
Obrolan kami berlanjut dalam bahasa Inggris. Tak lama, tapi cukup untuk meruntuhkan tembok prasangka yang sudah dibangun lama di kepala saya. Mereka bukan ancaman. Mereka nyata, bernapas, dan tidak menghakimi balik.
Mereka yang Merayakan Diri Sendiri
Kami berjalan bersama ke arah stasiun metro. Salah satu memperkenalkan diri: Miguel. Suaranya lembut tapi tegas.
“Kami sering berkumpul di sini. Martim Moniz cukup aman. Lisbon sudah banyak berubah,” katanya.
Saya bertanya, berubah dari apa.
“Portugal dulu sangat konservatif. Di masa Salazar, kami dianggap penyakit.”
Estado Novo: rezim ala moralitas paksa. Saya pernah membaca bahwa homoseksualitas baru didekriminalisasi pada 1982.
“Tapi sekarang bisa menikah, ya?”
Miguel tersenyum bangga. “Sejak 2010. Dan sejak 2016, kami boleh mengadopsi.”
Kalimat berikutnya membuat saya terdiam:
“Kami tidak lagi minta diterima. Kami hidup. Kami ada.”
Di Peron Ligne Verde
Kami turun ke peron Linha Verde. Lagu pop Portugal terdengar lirih dari ponsel seseorang. Yang memegang payung warna-warni menari kecil mengikuti irama.
Tak ada yang menatap sinis. Tak ada yang menghardik. Orang-orang lewat tanpa merasa terganggu.
Lisbon membiarkan orang menjadi dirinya sendiri.
Saya mendekat ke pemilik payung. “Muito bonito o guarda-chuva.”
Ia tersenyum, “Obrigado! Mau coba?”
Saya tertawa. “Talvez outra vez.” Mungkin lain kali.
Percakapan kecil, tapi bagi saya ia penting. Ia membuka sesuatu yang lama terkunci: keberanian menerima perbedaan bukan sebagai ancaman, tapi sebagai bagian dari kehidupan.
Pulang ke Alfarnelos
Kereta datang. Saya duduk di pojok gerbong, melihat stasiun demi stasiun terlewati: Baixa-Chiado, Jardim Zoológico, Praça de Espanha.
Di luar gelap. Tapi dalam kepala, penuh cahaya. Ada kapel kecil sunyi, payung pelangi, dan tawa orang-orang asing yang kini terasa dekat.
Sampai di Alfarnelos, saya berjalan perlahan ke apartemen kecil di lantai sembilan. Angin malam menyapa dingin, tapi hati hangat. Perjalanan malam itu bukan tentang perpindahan ruang, tapi pergeseran cara pandang.
Saya membuka jendela, memandang langit Lisbon. Tak ada pelangi di sana. Tapi saya tahu saya sudah melihatnya, bukan di langit, melainkan di jalanan batu, di wajah-wajah yang dulu saya takuti, dan di hati saya sendiri.
Penutup: Kota yang Merangkul
Lisbon tidak sempurna. Tapi ia mencoba. Ia belajar memeluk warna, tawa, dan perbedaan. Kapel yang dulu dibangun karena wabah kini berdiri di kota yang perlahan menjadi lebih sehat—bukan hanya raganya, tapi jiwanya.
Malam itu saya pulang membawa tiga gambar dalam ponsel: sepiring ayam bakar, kapel putih, dan payung pelangi di stasiun. Gambar yang tampaknya tak saling terhubung, tapi sebenarnya menyatu dalam benang merah kemanusiaan, kerendahan hati, dan keberanian untuk melihat dunia tanpa kacamata ketakutan.
Tiga gambar sederhana yang mengingatkan saya: hidup, pada akhirnya, hanyalah pertemuan-pertemuan kecil yang diam-diam mengubah kita.



