Kunjungan tak sengaja itu rupanya membuka kotak pandora sejarah yang lama tertutup rapat. Peran etnis Tionghoa dalam fondasi kesehatan di Indonesia—khususnya di Yogyakarta—kerap menjadi sejarah yang sunyi. Ia jarang dibicarakan, nyaris tak dirayakan, padahal kontribusinya begitu besar dan menentukan.
Pagi itu, saya bersepeda menyusuri jalanan Yogyakarta seperti biasa. Berangkat dari kawasan Tamansari, tujuan awal saya sebenarnya sederhana: Bulaksumur, kampus UGM. Namun pedal saya justru melambat di Jalan Teuku Cik Di Tiro Nomor 5. Ribuan kali melewati ruas jalan ini, baru kali itu saya memberanikan diri berhenti dan masuk ke kompleks Rumah Sakit Mata “Dr. YAP”.
Saya menyapa pak satpam di pos depan sambil bertanya apakah Museum Dr. Yap bisa dikunjungi dan apakah sepeda boleh diparkir. Ia menyarankan agar saya bertanya ke pos utama rumah sakit. Sepeda saya diizinkan sementara diparkir di dekat pos. Setelah mendapat kepastian bahwa museum terbuka untuk umum, saya kembali, memindahkan sepeda ke area parkir motor dekat kantin, lalu melangkah masuk.
Sebelum masuk lebih jauh, saya berdiri sejenak memandangi fasad bangunan. Rumah Sakit Mata “Dr. Yap”—nama itu terpampang jelas di dinding hijau pucat. Arsitektur kolonialnya bersahaja, tidak menantang langit, namun berwibawa. Atap genteng merah memanjang rendah dan simetris, dengan sebuah menara kecil di tengah, seperti penanda waktu yang enggan berlari tergesa.
Halaman depannya lapang, berlapis paving abu-abu yang rapi. Tidak ada kemegahan berlebihan. Justru dari kesederhanaan yang terawat itulah martabat bangunan ini tumbuh. Pilar-pilar di serambi depan berdiri kokoh, menyangga atap seperti lengan yang sabar—siap menyambut siapa pun yang datang membawa harapan untuk melihat dunia dengan lebih terang.
Setelah mengenakan masker yang diberikan petugas, saya melangkah masuk. Interior bangunan utama terasa sejuk, bersih, dan terawat. Lantai tegel tua dingin di telapak kaki, langit-langitnya tinggi, seolah membuat waktu berjalan lebih pelan. Saya mengikuti penunjuk arah, melewati lorong-lorong panjang dan taman-taman kecil di dalam kompleks rumah sakit, hingga akhirnya tiba di depan Museum Dr. Yap.
Museum ini bukan sekadar ruang pajang. Ia adalah monumen sunyi yang menyimpan ingatan tentang peran etnis Tionghoa dalam sejarah kesehatan Indonesia. Di tengah banyaknya rumah sakit bersejarah yang berganti nama atau kehilangan jejak pendirinya, RS Mata Dr. Yap tetap berdiri dengan nama asli—menjaga memori Dr. Yap Hong Tjoen dan putranya, Dr. Yap Kie Tiong.
Informasi di plakat depan museum menyebutkan bahwa pendirian ruang sejarah ini diprakarsai oleh direksi rumah sakit dan direstui langsung oleh keluarga Dr. Yap di Belanda, yakni Ir. Yap Kie Han dan Ir. Yap May Hwa. Museum ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tahun 1997.
Di beranda museum, di sudut ruangan, terpajang sebuah dokar pribadi. Ia diletakkan di atas alas khusus, dibatasi tali merah seperti tamu kehormatan yang tak boleh disentuh sembarangan. Roda kayunya besar dan kokoh, rangka besinya menghitam dimakan usia, atapnya sederhana—seakan masih menyimpan bayangan perjalanan masa lalu di bawah terik dan hujan. Di dekatnya, satu set mebel kuno berdiri tenang, sama-sama menyimpan cerita.
Saya masuk ke ruang museum. Suasananya sepi. Sebuah buku tamu tergeletak di meja; saya mengisinya—pengunjung pertama hari itu. Ada leaflet gratis berisi sejarah museum. Seorang petugas perempuan menyambut ramah, lalu membiarkan saya menikmati ruang ini dalam kesunyian.
Saya mulai menjelajah ditemani leaflet lipat berwarna marun itu. Ia tampak sederhana, namun isinya padat. Brosur ini seperti pintu kecil yang membuka banyak lapisan cerita. Di halaman depan, potret hitam-putih Dr. Yap Hong Tjoen tampil bersahaja. Tidak ada pose heroik, hanya tatapan seorang dokter mata di zaman ketika ilmu pengetahuan harus diperjuangkan dengan keterbatasan.
Ia lahir di Yogyakarta pada akhir abad ke-19, menempuh pendidikan kedokteran mata di Belanda, lalu pulang bukan untuk mencari kemewahan, melainkan untuk mengabdi. Ia membawa pulang bukan hanya ijazah, tetapi komitmen untuk membangun layanan kesehatan mata yang inklusif.
Sejarah museum ditulis ringkas namun penuh hormat. Museum Dr. Yap Prawirohusodo merupakan hasil pengalihan fungsi bangunan lama rumah sakit, diresmikan pada 1997. Angka-angka tentang luas dan koleksi memang tercantum, tetapi yang terasa justru kesinambungan: rumah sakit, museum, pendidikan, dan pengabdian, semuanya diikat oleh satu benang yang sama.
Visi dan misi museum ditulis lugas, nyaris tanpa retorika. Museum ini ingin menjadi sarana ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan di bidang kesehatan mata. Tidak ada jargon bombastis—seolah pengelola sadar, warisan Dr. Yap justru terletak pada kerja sunyi dan konsistensi.
Di dalam museum, saya melihat berbagai alat kedokteran mata. Sebagian sudah menjadi artefak, sebagian masih dikenali oleh dokter mata masa kini. Ada alat perimeter manual untuk mengukur lapang pandang, juga mesin cryostat untuk bedah jaringan mata beku.
Perhatian pada penyandang tunanetra terasa kuat. Tersimpan koleksi mesin ketik Braille dari berbagai era, mulai dari merek Picht yang klasik hingga Perkins Brailler yang lebih modern. Sejak awal, rumah sakit ini tidak hanya mengobati, tetapi juga memberdayakan.
Yang paling mengesankan adalah perpustakaan pribadi keluarga Dr. Yap—lebih ribuan judul buku, majalah, dan jurnal. Literatur kedokteran berdampingan dengan buku seni dan sejarah. Di sela buku-buku tebal berbahasa Belanda dan Jerman, saya menemukan Teach Yourself Statistics berbahasa Inggris—detail kecil yang terasa sangat manusiawi. Ah saya merasa sangat senang karena saya pun suka belajar sendiri melalui buku-buku seri Teach yourself.
Di dinding putih tergantung foto-foto bersejarah: bangunan rumah sakit tahun 1942, suasana peringatan 25 tahun pada 1948, serta potret Dr. Yap Kie Tiong, putra kedua Dr. Yap Hong Tjoen, yang memimpin rumah sakit pada 1948–1964.
Di salah satu sudut, terpajang meja operasi tua yang pernah digunakan Dr. Yap. Usianya jelas lanjut, tetapi auranya membuat siapa pun berdiri takzim. Rumah sakit ini adalah cagar budaya yang hidup. Selain foto, buku, dan alat medis, bahkan dua sepeda onthel klasik yang pernah digunakan Dr. Yap ikut dipamerkan—seakan menegaskan bahwa pengabdian juga pernah dilakukan dengan mengayuh pelan.
Ada pula dokumentasi tentang yayasan yang didirikan Dr. Yap. Pada 12 September 1926, ia mendirikan Stichting Vorstenlandsch Blinden Instituut (VBI). Tujuannya jelas: memperbaiki nasib tunanetra tanpa membedakan suku dan agama. Lembaga ini menampung mereka yang kebanyakan berasal dari desa, tidak berpendidikan, dan hidup dalam keterbatasan. Di masa kolonial, ini adalah bentuk kemanusiaan yang melampaui zamannya.
Dr. Yap Hong Tjoen dikenal sebagai dokter mata yang dermawan. Melalui VBI, ia tidak hanya memberi perawatan medis, tetapi juga pemberdayaan sosial. Ia memahami bahwa kehilangan penglihatan bukan akhir hidup, dan tugas kemanusiaan adalah membuka kemungkinan-kemungkinan baru.
Sejarah rumah sakit ini panjang, berlapis, dan tidak selalu lurus. Ia bermula dari seorang dokter Tionghoa Hindia yang memilih pulang ke tanah jajahan. Pada awal abad ke-20, penyakit mata adalah penanda kemiskinan dan pengabaian. Banyak orang buta bukan karena takdir, melainkan karena tidak pernah diberi kesempatan untuk sembuh.
Dari praktik pelayanan gratis itulah, gagasan rumah sakit mata tumbuh. Tahun 1922, ia menjelma bangunan dengan nama Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders. Nama itu adalah kompromi politik—pintu agar rumah sakit bisa hidup di bawah rezim kolonial. Namun denyutnya sepenuhnya lokal. Pasien pasien datang, menunggu, dan berharap.
Jepang datang tahun 1942. Nama Juliana dihapus. Rumah sakit berganti nama menjadi Rumah Sakit Mata Dr. Yap—sebuah pengembalian jati diri. Masa revolusi menyusul. Yogyakarta menjadi ibu kota republik. Di tengah perang dan keterbatasan, rumah sakit ini tetap melayani siapa pun yang matanya terluka.
Pada 17 Juni 1949, Dr. Yap menyerahkan pengelolaan kepada putranya, Dr. Yap Kie Tiong. Tak lama kemudian ia menetap di Belanda. Ia wafat di sana pada 1969, tanpa monumen besar. Namun rumah sakitnya tetap berdiri.
Dr. Yap Kie Tiong memahami bahwa rumah sakit ini bukan warisan keluarga. Ia adalah amanah sosial. Maka pada 1972, pengelolaan resmi diserahkan kepada sebuah yayasan yang kemudian dikenal sebagai Yayasan Dr. Yap Prawirohusodo.
Nama “Prawirohusodo” bukan nama orang. Ia adalah simbol—dalam bahasa Jawa, merangkum makna pengabdian dan kesehatan. Nama ini mengindonesiakan sekaligus melindungi rumah sakit di tengah iklim sosial-politik yang tak selalu ramah bagi identitas Tionghoa.
Hari ini, ketika rumah sakit sering dipahami sebagai gedung tinggi dan antrean digital, kisah Dr. Yap terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa pelayanan kesehatan lahir dari empati yang sangat manusiawi. Bahwa ilmu setinggi apa pun baru bermakna ketika dibumikan.
Mungkin banyak orang melintas di depan RS Mata Dr. Yap tanpa menoleh lama. Namun sejarah tidak selalu menuntut untuk dihafalkan. Ia cukup hadir—seperti bangunan tua yang tetap berdiri, atau nilai yang diam-diam bekerja.
Dan barangkali di situlah kekuatan warisan Dr. Yap: teladan tentang kemanusiaan yang dirawat lewat konsistensi. Bahwa menolong satu manusia saja sudah cukup berarti.
Setelah sekitar satu jam lebih berada di dalam museum, saya meninggalkan rumah sakit memutar di jalan Cik ditiro dan menuju kawasan Tugu dan Pakuningratan, menjelajah kembali bagian lain kota Yogya.



