Laporan Perjalanan dari Hainan oleh Taufik Hidayat
Langit sore di Hainan berwarna lembayung muda ketika lantunan Poco-Poco menggema dari sebuah panggung terbuka. Barisan lampu bulat bergantungan di antara pohon kelapa, memantulkan cahaya keemasan ke wajah-wajah yang sedang tersenyum. Di tengah kerumunan, penari berpakaian batik jingga menggoyangkan pinggulnya dengan lincah. Penonton—baik turis Indonesia maupun warga lokal Tiongkok—ikut bergoyang, menirukan gerakan yang entah bagaimana bisa menyatukan mereka dalam irama yang sama.
“Ngana pe goyang pica-pica…”
Liriknya terdengar nyaring, jenaka, dan penuh kenangan.
Namun ini bukan Bali. Ini adalah Desa Bali yang berdiri di Pulau Hainan, Tiongkok.
Perjalanan ke tempat ini dimulai setelah kami meninggalkan Yalong Bay International Rose Valley, taman bunga mawar yang harum semerbak di tepi selatan pulau. Bus kami melaju menyusuri jalan pesisir menuju Xinglong, Wanning, kawasan yang dikenal subur dan tropis—semacam perpaduan antara Denpasar dan Bogor dalam versi Tiongkok.
Di dalam bus, pemandu lokal kami, Angela—atau Xiao Long, begitu ia memperkenalkan diri—didaulat menyanyi lagu rakyat Hainan. Suaranya lembut, seperti anyaman angin sore di antara pohon kelapa. Lagu itu bercerita tentang rindu pada tanah kelahiran, dan entah mengapa, nada-nadanya terasa akrab bagi telinga kami yang juga perantau sementara.
Tak lama kemudian, bus berhenti di pelataran luas dengan papan batu bertuliskan “Desa Bali”. Huruf “A” di sana dibentuk menyerupai Candi Bentar, seolah-olah memberi salam khas Nusantara kepada setiap tamu yang datang. Di dekatnya, sebuah plakat logam menyebutkan bahwa tempat wisata ini berperingkat AAA, bagian dari sistem peringkat resmi Kementerian Pariwisata Tiongkok yang menilai mutu sebuah objek wisata dari A hingga AAAAA.
Angela tersenyum bangga, “Ini tempat favorit turis Indonesia. Katanya, bisa ke Bali tanpa naik pesawat ke luar negeri.”
Begitu melewati gerbang Candi Bentar, suasana berubah drastis. Udara hangat bercampur wangi dupa, musik gamelan mengalun lembut dari pengeras suara, dan jalan setapak diapit deretan kelapa serta plumeria yang berbunga putih kekuningan. Jika bukan karena papan-papan berhuruf Mandarin di dinding, saya mungkin akan mengira sedang berada di Gianyar.
Di sebelah kiri gerbang, berdiri patung Dewi Kwan Im yang duduk dalam posisi lotus, senyumnya tenang, seolah memberkati persilangan budaya yang terjadi di sekitarnya.
Tak jauh dari situ, sebuah papan bertuliskan “Santai Sejenak Belajar Bersama” memamerkan daftar kosakata sederhana Bahasa Indonesia dan terjemahannya dalam Mandarin:
Terima kasih = Xie Xie,
Apa kabar = Ni Hao,
Selamat datang = Huan Ying.
Sebuah upaya kecil tapi menyenangkan untuk menjembatani bahasa dan keramahan.
Kami melangkah lebih dalam ke kawasan taman, di mana patung Barong Bali berdiri gagah dengan mata melotot dan gigi taringnya yang khas. Wajahnya menakutkan, tapi di balik itu, ada pesona yang tidak bisa dijelaskan. Menurut pemandu kami, Pak Parjoni, sebagian besar ornamen di sini—dari ukiran batu hingga kain poleng—dibuat langsung oleh para pengrajin yang didatangkan dari Bali. Bahkan beberapa arsitek Bali juga ikut terlibat dalam pembangunan kompleks ini.
Dari situ kami beralih ke sebuah galeri kecil yang menampilkan sejarah berdirinya Desa Bali di Xinglong. Di dinding terpampang foto-foto hitam putih: kapal-kapal yang berlabuh, keluarga Tionghoa yang baru kembali dari Indonesia, dan wajah-wajah muda yang mencoba menanam harapan di tanah baru.
Sejarahnya berawal dari dekade 1950–1960-an, ketika di Indonesia diberlakukan Peraturan Pemerintah Nomor 10 yang membatasi aktivitas perdagangan warga keturunan Tionghoa di tingkat kecamatan. Akibatnya, ribuan orang memilih untuk “pulang” ke negeri leluhur. Namun bagi sebagian dari mereka, “pulang” tidak berarti kembali ke tempat yang dikenali. Pemerintah Tiongkok saat itu menempatkan banyak di antara mereka di Pulau Hainan, yang kala itu masih dianggap daerah terpencil dan keras.
Waktu berlalu. Mereka membangun rumah, menanam pohon, dan perlahan menanam pula kenangan Indonesia yang mereka bawa. Dari sinilah lahir komunitas baru—Tionghoa yang berbicara dalam bahasa Indonesia dan berbagai bahasa daerah di Nusantara, memasak dengan rempah Indonesia, dan menanam kopi.
Salah satu kisah menarik di galeri itu adalah tentang Kopi Xinglong. Foto besar Perdana Menteri Zhou Enlai terpajang di dinding, sedang menikmati secangkir kopi. Keterangan di bawahnya berbunyi: “PM Zhou memuji Kopi Xinglong sebagai yang terenak di dunia.”
Ironisnya, kopi itu sendiri berasal dari Indonesia. Tahun 1954, seorang Tionghoa Indonesia bernama Lin Yongxiang kembali ke Tiongkok dengan membawa 20 pon bibit kopi dari tanah air. Ia menanam bibit itu di Hainan, dan dari sanalah lahir Kopi Xinglong yang kini menjadi kebanggaan lokal.
Saya tersenyum membaca kisah itu. Di luar, aroma kopi panggang samar-samar tercium. Seperti ada jembatan rahasia yang menghubungkan dua pulau tropis di dua negeri berbeda melalui satu cangkir kopi.
Dari galeri, kami menuju Panggung Taiyanghe, tempat pertunjukan tari tradisional Indonesia diadakan setiap tiga puluh menit. Ketika musik gamelan berbunyi, penari-penari muda muncul ke panggung mengenakan busana Bali, Sumatra, dan Sulawesi. Semua penari adalah warga lokal Hainan yang belajar menari Indonesia. Gerak mereka mungkin belum sempurna, tapi semangat mereka menular.
Ketika musik berubah menjadi irama Poco-Poco, suasana seketika pecah. Penonton berdiri, menari bersama, dan tawa menggema di udara tropis Hainan. Ada sesuatu yang tulus di antara derap langkah dan goyangan tangan itu—semacam pengakuan tak terucap bahwa budaya bukan milik siapa-siapa, melainkan milik semua yang bersedia ikut bergembira.
Setelah pertunjukan, kami berkeliling lagi. Di tepi jalan, kios kecil menjual kelapa gading dengan harga 10 yuan per butir. Airnya manis dan dingin, walau dagingnya tak bisa dimakan. Beberapa meter dari situ, gadis-gadis muda berpose mengenakan pakaian tradisional Thailand—bukan Bali—di depan candi replika. Mereka tampak bahagia, meski salah kostum. “Mungkin bagi mereka, semua yang tropis itu Bali,” celetuk seorang teman, dan kami tertawa kecil.
Dua jam terasa begitu cepat. Saat bus mulai beranjak meninggalkan Desa Bali, saya menoleh ke belakang. Candi Bentar di kejauhan tampak memudar, tapi suara musik Poco-Poco masih samar terdengar, seolah mengantar perpisahan dengan gaya yang jenaka.
Saya menatap secangkir kopi Xinglong di tangan. Rasanya lembut dan sedikit pahit—seperti nostalgia yang diseduh di dua negeri.
Dan saya sadar, bahwa perjalanan ini bukan sekadar kunjungan wisata, melainkan potret kecil tentang bagaimana budaya berjalan jauh, menyeberang laut, dan menemukan rumah barunya di tempat yang tak pernah kita duga.



