NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

NEW!

Incredible offer for our exclusive subscribers!

Readmore

Portuguese Egg Tart dan Matcha di Reruntuhan Sao Paolo di Makau

(Taufik Hidayat/cgwtravel.com)

Hari terakhir di Makau selalu terasa spesial. Setelah menyusuri kasino-kasino megah di Taipa, hari ini saya memilih menyusuri sisi lain kota ini—Kota Tua Makau, yang sering disebut San Ma Lo. Dari Hotel Grand Lisboa, taksi membawa kami menyusuri Avenida de Almeida Ribeiro, jalan utama di Semenanjung Makau yang, meski dinamai “Avenida”, tetap saja sempit. Belok demi belok, jalanan makin menyempit, dan akhirnya kami memutuskan turun dari taksi untuk berjalan kaki, menyusuri gang-gang yang hanya bisa dilewati pejalan kaki.

Berjalan di jalan berbatu Kota Tua, saya merasa seolah menyeberangi waktu. Bangunan kolonial Portugis berdampingan dengan elemen budaya Tiongkok, menciptakan harmoni arsitektur yang khas. Suasana lalu lintas yang semrawut diganti oleh hiruk-pikuk manusia dari berbagai penjuru dunia, dan setiap sudut menyimpan pesona tersendiri.

Seperti biasa, saya tak melewatkan Portuguese Egg Tart, pastel de nata yang sudah menjadi ikon kuliner Makau. Kulitnya renyah, berlapis, dengan custard lembut di tengahnya—manisnya pas dan mengingatkan pada sejarah panjang jajanan ini, dari biara Jeronimos di Portugal hingga penyesuaian rasa lokal di Makau. Jika di Lisbon satu potongnya hampir 2 Euro, di sini 50 Pataka bisa membeli empat potong. Bagi saya, versi Makau lebih menggugah selera, meski tentu selera tiap orang berbeda.

Setelah mengunyah manisnya egg tart, pandangan saya tertuju pada fasad megah Ruins of St. Paul, sisa Gereja Mater Dei abad ke-17. Tangga menuju reruntuhan dipadati turis, tapi hiruk-pikuk itu justru menambah semarak suasana. Di sekitar reruntuhan, pedagang lokal menjajakan suvenir dan jajanan khas, sementara taksi sesekali melintas, bergerak lebih lambat daripada manusia yang berjalan kaki—pilihan kami turun dari taksi ternyata tepat.

Menikmati es krim matcha di salah satu toko kecil menambah kesegaran perjalanan. Rasanya pahit-manis khas teh hijau Jepang, seolah oasis di tengah panas kota. Tak hanya menyegarkan, tapi juga mencerminkan perpaduan budaya yang hidup di Makau, kota dengan jejak kolonial Portugis sekaligus pengaruh Asia.

Perjalanan berlanjut menuju Senado Square, alun-alun bersejarah yang dikelilingi bangunan kolonial bergaya Portugis. Jalan berbatu dengan pola gelombang hitam-putih menghadirkan atmosfer klasik Semenanjung Iberia. Di sekitar alun-alun, Leal Senado dan Gereja St. Dominic berdiri megah, menampilkan perpaduan arsitektur Barat dan Timur, sementara kafe, toko, dan restoran menambah kesan hidup kota.

Perjalanan di Kota Tua Makau kami akhiri di depan Kantor Pos Makau yang cantik, tempat yang sempurna untuk menutup eksplorasi sebelum menunggu taksi kembali ke hotel. Siang ini, perjalanan berlanjut menuju Zhuhai, perbatasan Provinsi Guangdong. Kota Tua Makau, dengan jalan sempitnya, egg tart lezat, dan reruntuhan yang penuh cerita, meninggalkan kesan tak terlupakan.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.